27

1.6K 97 1
                                        

Hai hai hai
Balik lagi nih sama Madilll kalian yang kece ini
Apa kabar para Kesayangan Madilll
Call Me Madilll okey!
Dan buat para readers Madilll terlope-lope, udah ada panggilan khusus nih,
Iya Kesayangan Madilll itu kalian, para readers yang pastinya selalu ngasih Madilll notip.
Udahlah, cus baca!

.

.

.

Iringan rembulan menyapa gelap di bawah naungannya. Di sana, Fajri dan Raya yang tengah duduk di balkon menatap rembulan ditemani semilir angin malam. Teh manis dan beberapa cemilan menemani mereka. Diam-diam, Fajri mengambil gambar Raya. Ia sudah bertekad untuk go public. Percuma kalau disembunyikan, nantinya juga  tertangkap basah  oleh anak-anak kampus. Sebab, mereka adalah pasangan yang paling dinantikan kabarnya oleh akun gosip di lingkungan kampus. Mereka sering dijodohkan oleh anak kampus diberbagai kesempatan. Namun, tak jarang Raya mendapatkan komentar negatif dari fans berat nya Fajri.

"Ray, pinjam tangan kananmu," ujar Fajri memecah keheningan.

"Buat apa, Kak?" tanya Raya kebingungan.

"Udah, sini," balas Fajri menarik lengan kiri Raya.

Fajri mensejajarkan tangannya dengan tangan Raya, lalu  memotret dengan kamera ponselnya. Kemudian ia menggenggam tangan Raya dan kembali mengambil gambar.
"Username ig?"

"At Raych, mau apa kak?"

"Sstt diem Oke."

Raya hanya mendengus kesal. Tak lama kemudian, semua gambar itu terunggah ke akun media sosial milik pria paling populer di kampus itu. Jangan lupakan notifikasi yang masuk kedalam ponsel Raya.

@maulana_fajri menandai anda dalam postingannya

Maulana_fajri     ikuti

(3 pict)

👤Raych

❤ 💬  🔁 disukai oleh 1.284

Malam ini dingin, tapi karena ada kamu malam ini terasa begitu hangat.
Love you❤

Raya membulatkan matanya, go public tanpa meminta persetujuan nya? Dan baru aja nge-post satu menit udah banyak banget yang like. Raya langsung mematikan data seluler nya, rame juga yang komentar. Ntar aja kalau gabut baru dibaca.

"Kenapa go public sih?"

"Dari pada kena fitnah,"

Kalau dipikir-pikir benar juga, ia akan selalu mondar-mandir bareng Fajri. Kalau ga dipublikasikan malah ntar ada rumor yang engga-engga, kan repot.

"Ray, sebenarnya lo udah siap belum sih jadi istri?" pertanyaan yang seharusnya tak boleh terucap kini terucap begitu saja. Seminggu sudah ia menjadi seorang suami, namun ada beberapa hal yang menurutnya kurang.

"Kok nanya gitu?"

"Gimana ya? Sorry nih ya, kalau misal gue bandingin lo sama bunda. Setiap pagi, gue liat bunda nyiapin semuanya buat ayah, dari bangun tidur sampe ayah berangkat. Sedangkan gue ga ngerasain itu Ray. Mandi, nyiapin sendiri, baju buat ganti juga gitu. Dan kadang, gue ngerasa ga dihargai Ray, sorry banget nih, lo ga pernah nyium tangan gue kecuali shalat," Fajri menatap langit yang terang karena cahaya rembulan.

"Dan gu-gue juga belum dapet- lupain,"

Raya menunduk. Ia mengetuk-ketuk cangkir yang ia pegang. Semua yang Fajri ucapkan benar. Ia hanya belum terbiasa dengan semua hal itu. Dan untuk kalimat terakhir yang Fajri ucapkan, ia benar-benar belum siap.

"Maaf," lirihnya.

"Ga papa, gue juga yang salah. Seharusnya, gue nolak pas umi nyuruh kita tinggal disini, biar kita bisa mandiri,"

"Gu-gue belum terbiasa."

"Kalau ga dibiasain, lo juga ga akan terbiasa lakuin itu semua. Gue masuk dulu," Fajri melangkah meninggalkan Raya.

Ada rasa kecewa di hatinya. Ia sudah menikah dan status nya sebagai seorang suami yang mempunyai hak untuk mendapat perhatian dari sang istri. Tapi ini, suami rasa bujangan. Ga menikah, ga jomblo sama aja. Apa-apa sendiri.

Sedangkan Raya, ia masih termenung di balkon. Apa yang harus ia lakukan? Apa Fajri marah padanya? Raya memilih menyusul Fajri. Namun, ia tak menemukan Fajri. Sekian detik kemudian, ia mendengar suara motor keluar dari area rumah. Walau sudah jauh, Raya yakin kalau itu Fajri. Raya mengambil jaket kulit dan kunci motor. Ia tak mau kalau Fajri kenapa-napa.

"Mau kemana Ray?" tanya Fenly yang keebetulan ada diteras rumah.

"Mau nyusul Kak Fajri, bang,"

Raya bergegas menuju garansi rumahnya dan pergi dengan kecepatan diatas rata-rata agar bisa mengejar Fajri. Fenly juga tak tinggal diam, ia juga ikut menyusul. Siapa tau Raya membutuhkan nya.

"RAYA JANGAN NGEBUT!!!" teriak Fenly. Raya tak merespon ucapan kakaknya, ia memilih tancap gas agar segera menyusul Fajri.

Karena terlalu fokus dengan motor Fajri, Raya tak memperhatikan lampu yang berubah warna.

Cittt brakk

Kecelakaan tak bisa dihindari lagi. Motor Raya tertabrak oleh mobil box, Raya sendiri terpental hingga 10 meter. Helm yang digunakan Raya juga terlepas.

"Raya!"

Fenly berlari menuju adiknya yang tergeletak ditengah jalan. Orang-orang juga sudah mengelilingi tubuh Raya.

"Ray bangun, Raya!" tanpa sadar, setetes air mata lolos begitu saja.

"Mas, mas siapanya korban?"

"Saya kakaknya, tolong hubungi ambulan secepatnya!"

"Sudah mas, sedang menuju kesini."

"Raya, abang mohon bangun," tak terasa air mata Fenly kembali menetes. Hatinya pilu melihat banyak darah yang keluar dari kepala adiknya.

Beberapa saat kemudian, ambulan datang. Fenly langsung menggendong Raya masuk kedalam mobil ambulan. Masabodo sama motornya, keselamatan Raya  lebih penting. Ilang tinggal minta beli lagi, sedangkan nyawa adiknya tak bisa dibeli.

"Raya, bertahan ya. Kita kerumah sakit," lirih Fenly.

Sementara itu, Fajri menghentikan motornya saat mendengar suara benturan keras. Sedari tadi ia tak menyadari kalau Raya membuntuti nya.

"Maaf, ada apa yah?" tanya Fajri kepada salah satu warga yang tengah memperhatikan dari jauh.

"Ada kecelakaan mas, korbannya perempuan."

"Perempuan?" lirih Fajri, dia langsung mendekati TKP dan mendapati dua motor, satu berwarna merah dengan akhir plat motor FCH satu lagi berwarna biru dengan akhir plat motor RCH.

"Maaf, ini motor korban ya?" tanya Fajri sambil menunjuk motor berwarna biru.

"Iya, mas?"

"Korban nya anak Cemal kan? Yang suka bagi-bagi sembako," ucap salah satu warga.

"Ah, iya bener. Kalau ga salah namanya Raya,"

"Raya? Korban nya dibawa kerumah sakit mana yah?"

"Rumah sakit Medika,"

Fajri langsung tancap gas menuju Rumah Sakit Medika. Kenapa ia tak menyadari kalau Raya membuntuti nya? Kenapa ia harus keluar dari rumah? Ia berharap Raya baik-baik saja. Namun, harapan nya sedikit memudar kala mengingat banyak bekas darah di TKP tadi.

"Maafin gue Ray,"





Semoga Raya baik-baik aja. Semangat buat sembuh ya Ray.

Jangan lupa vote and komennya yaw!

Papay!

Badboy My Husband : End✅ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang