44

1.5K 97 6
                                        

16:47, Fajri dan Raya menyusuri jalanan kota. Biasa bumil minta beli sesuatu, kali ini Raya ingin makan bakso beranak yang berada 200 meter dari kampus mereka. Ga papa, demi calon anak, Fajri rela lakuin apapun.

"Gimana? Enak?" tanya Fajri.

"Enak, makasih kak," Fajri mengangguk sambil tersenyum.

Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang mengawasi mereka. Sepertinya mereka dari Dymasius, karena tatapan mereka tertuju pada Raya.

"Hajar mereka saat pulang," instruksi salah satu dari mereka.

"Siap."

Sementara itu, Fenly nampak gelisah. Ia terus mondar-mandir, ntah kenapa tiba-tiba rasa khawatir muncul. Ia khawatir dengan Raya, padahal Raya dijamin aman dengan Fajri.

"Ray, abang harap kamu baik-baik aja," gumam Fenly.

"Kenapa?"

"Ga tau bang, tiba-tiba aja gua khawatir sama Raya," ucap Fenly.

"Tenang, ada Fajri. Gua yakin Fajri bakal jagain Raya, kayak lo jagain Raya," jelas Ricky.

"Semoga aja," balas Fenly.

Setelah selesai dengan urusan bakso nya, Fajri dan Raya bergegas pulang. Karena lokasi kampus dengan rumah lumayan jauh, biar pulang nya ga kemaleman, kasian juga Raya.

"Kak, kayaknya mereka ikutin kita deh," ucap Raya saat menyadari kehadiran beberapa lelaki.

"Mereka mana?"

"Liat spion," Fajri melirik spionnya, benar saja ada beberapa motor yang mengikuti nya.

"Dymasius, kak," ucap Raya yang tanpa sengaja melihat logo yang ada di lengan jaket.

"Saga maksud kamu?" Raya mengangguk sebagai jawaban.

"Pegangan," Fajri menambah kecepatannya. Bisa sih dia ngelawan, tapi dia lagi bawa dua nyawa, jangan sampai mereka berdua kenapa-napa.

Terjadi adu kecepatan, antara motor Fajri dengan anak-anak Dymasius. Bahkan motor Fajri sudah berada di tengah-tengah mereka. Namun, Fajri tetaplah Fajri, si raja jalanan, dengan mudah ia bisa melewati anak-anak Dymasius. Hanya melewati, untuk lolos dari mereka agak sulit.

"Hubungi anak-anak yang lain kak," usul Raya.

"Ga sempet," timpal Fajri.

Salah satu motor Dymasius berhasil sejajar dengan motor Fajri, ia menyenggol motor Fajri hingga oleng, percobaan pertama, Fajri berhasil menyeimbangkan kembali posisi motor. Namun, anak Dymasius kembali menyenggol motornya dengan kencang. Hal ini membuat Fajri dan Raya terjatuh, bahkan Raya terpental sampai ke trotoar.

"Raya!"

"Cabut," perintah salah satu dari mereka.

"Woy! Jangan kabur kalian!" teriak Fajri.

"Kak," lirih Raya. Fajri menoleh, ia terkejut kala melihat darah dikaki Raya.

"Sa-sakit," ucap Raya sambil memegang perutnya.

"Kita kerumah sakit ya," Raya hanya mengangguk pelan. Lagi-lagi Fajri dibuat bingung, ia harus membawa Raya pake apa? Motor, ga mungkin. Ia memberhentikan sebuah mobil, ntah kebetulan atau bagaimana, mobil tersebut dikendarai oleh salah satu anggota Ganapati.

"Kenapa, Ji?"

"Anterin gue kerumah sakit," pinta Fajri.

"Ya udah yuk,"

Ditengah perjalanan, Febri menghubungi Fenly untuk memberi tahu keadaan Raya. Sebenarnya, dilarang oleh Raya, namun bagaimana pun Raya adalah adik dari ketuanya.

Sesampainya dirumah sakit, Raya langsung dibawa ke UGD untuk mendapatkan perawatan yang lebih lanjut. Dalam hatinya Fajri terus berdoa, agar Raya dan calon anaknya baik-baik saja, apalagi tadi ia melihat darah dikaki Raya. Ia berharap itu luka, bukan pendarahan dari jalan lahir.

"Ji...." Fenly dan Alma datang dengan wajah khawatir.

"Raya kenapa, Ji?" Fajri bunkam, ia tak tau harus menjawab bagaimana. Kalau ia bilang ulah geng motor, apa yang akan terjadi selanjutnya?

"Feb?"

"Gua kurang tau Fen, tadi gua liat Raya udah tergeletak," jelas Febri.

"Lo apain adik gua?" tanya Fenly dengan wajah datarnya.

"Dymasius," lirih Fajri.

"Brengsek, kabarin yang lain, biar lebih ketat jagain anak cewe" perintah Fenly.

"Siap Fen."

Beberapa saat kemudian, Ricky dan dua sahabatnya datang diikuti keluarnya dokter dari ruang UGD.

"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Fajri.

"Alhamdulillah keadaannya baik-baik saja, namun pasien syok," jelas dokter dengan nametag Ivan.

"Lalu bagaimana dengan janinnya?"

"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya, karena benturan pada perut sangat keras dan pendarahan akibat benturan tersebut."

"Dokter jangan bercanda, dokter pasti lagi ngeprank saya kan?"

"Saya serius pak," ucap dokter Ivan menyakinkan.

"RUMAH SAKIT MACAM APA? KENAPA GA BISA MENYELAMATKAN ANAK SAYA?"

"Sabar Ji, ini rumah sakit," ucap Fenly menenangkan.

"GIMANA GUA BISA TENANG, Fen. Anak gua ga selamat," ucap Fajri di iringi tubuhnya yang meluruh bersama air matanya.

"Sumber kebahagiaan gua ga selamat, Fen," lirih Fajri.

"Sabar, temui Raya, dia butuh lo sekarang," yang lain hanya bisa diam. Mereka dapat merasakan apa yang Fajri rasakan, terpukul, apalagi selama ini Fajri amat menjaga calon anaknya.

"Saga, dia harus bayar semua ini," Fajri beranjak dari duduknya dan bergegas keluar. Ia ingin membalas dendam atas semua yang ia dan Raya alami.

"Umi, titip Raya, Fen mau ngejar Fajri dulu," setelah berpamitan dengan umi, Fenly bergegas menuju parkiran motor.

"Ji,"

"Jangan cegah gua," datar Fajri.

"Raya lagi terpukul didalem dan lo mau nambahin? Suami macam apa?"

"Dia udah buat adik lo keguguran dan lo diem aja? Abang macam apa?"













Yang tabah ya Ray, Ji, rencana Tuhan lebih indah 😢

Badboy My Husband : End✅ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang