16

1.9K 107 0
                                        

Ada yang kangen Raya sama Fajri?
Atau Author?
Ga ada? Ya udah deh
Pireding semuanyaa

.

.

.

.

Kini Padepokan Al Irsyad sedang makan siang dengan berbagai hidangan. Ini sebagai apresiasi untuk kemenangan mereka dari peperangan itu. Tak ada kekurangan satupun anggota tiap geng, mereka semua kumpul disini plus Reno.

Selama ini Reno lah yang membantu Aban mendapatkan informasi tentang Dymasius. Dia juga yang mencampur minuman Dymasius dengan ramuan tersebut. Tentang kejadian yang melibatkan Fenly, pagi itu Raya baru mengetahuinya.

Beberapa saat setelah Fenly pergi. Raya terbangun dari tidurnya karena ponselnya sangat berisik.

[Raya abah minta maaf tidak memberitahu kebenarannya. Reno ada dipihak kita. Kalau masalah tadi, itu hanya bagian rencana abah. Maaf ini rencana abah. Rencana selanjutnya, Reno akan datang. Serahkan saja kotak itu, Reno akan pura-pura mengancammu.]

"Maafin gua soal luka ditangan lo," ucap Ricky.

"Maafin gua juga ya, sebenernya tuh pistol ga ada pelurunya,"

"Gila lo! Lo udah buat adik gua inget sama kejadian masa lalu nya gara-gara tuh pistol, eh ternyata ga ada isinya." ketus Fenly.

"Ya maaf,"

"Oh iya, ngomong-ngomong pusaka yang asli dimana ya?"

*:..。o○ ○o。..:*

Kini keadaan sudah aman. Raya merebahkan tubuhnya dikasur kesayangannya. Namun rasa kesal masih menghinggapi dirinya. Tadi ia sempat mendapat pesan dari Umi tercinta kalau lusa udah harus mulai ngurusin pernikahan. Sebenarnya rencana yang Fajri dan Raya ucapkan belum mereka katakan kepada orang tua masing-masing. Jadi acara tetap diadakan minggu depan, sesuai rencana awal.

"Cie yang mau nikah,"

"Manusia bukan sih ganggu mulu perasaan,"

"Bukan gua malaikat,"

"Malaikat itu yang punya dua tanduk merah dikepala kan?"

"Itu iblis,"

"Cocok sama lo,"

"Adik durhaka lo,"

"Bidiimit,"

"Padahal abang kesini mau ngajak jalan, ga jadi ngeselin lo nya," Raya langsung merangkul tangan Fenly dan menunjukkan senyum manis nya.

"Jangan gitu dong, yuk jalan kemana?"

"Alam Barzah mau?"

"Kalo itu lo duluan sana, ntar gua nyusul," Raya kembali duduk dipinggiran tempat tidur. Bisa-bisa nya bercanda.

"Emang lo rela gua mati duluan? "

"Ga sih,"

"Siap-siap gih. Lima menit ga pake lama,"

"Kemana dulu?"

"Mall,"

*:..。o○ ○o。..:*

Suasana mall begitu ramai. Banyak orang berlalu lalang, keluar masuk toko. Fenly dan Raya memilih untuk mengisi perut mereka, kebetulan waktunya makan siang.

"Mau pesan apa?" ucap pelayan ramah.

"Burger satu, spagetti satu sama orange juice nya dua,"

"Baik, akan kami buatkan pesanannya."

"Cantik ya mba mba nya? Segitunya liatin,"

"Ga" Fenly mengalihkan pandangannya ke ponsel.

"Hahaha seorang Fenly jatuh cinta. Tenang bang, Raya bantu cari tau namanya,"

"Jangan bertingkah, gua ga suka sama dia,"

"Sebatas mengagumi karena mirip sama dia,"

Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Namun bukan orang yang tadi, perempuan tadi sedang membenahi meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan.

"Mas, mba yang itu namanya siapa ya?" tanya Raya.

"Hanum mba, kenapa ya? Dia buat masalah?"

"Ga kok mas, abang saya pengen kenalan," ucap Raya sedikit menggoda kakaknya. Sedangkan Fenly memilih tak peduli, walaupun hatinya tengah mengumpat.

"Oh kalian kakak beradik?"

"Iya, emang kenapa?"

"Kirain pacaran mba, berarti ada dong kesempatan buat saya," kekeh pemuda tersebut.

"Eh kesempatan apaan, jangan macem-macem lo sama adik gua,"

"Jangan marah-marah mas, kenalin Parjo calon adik ipar,"

"Calon?"

"Mba nya jomblo kan?" Raya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Niat mau comblangin Fenly kok dia yang kena ya?

"Hai sayang, ngapain disini?" ucap seorang pemuda yang datang dengan dua teman nya. Raya semakin dibuat bingung dengan kedatangan Fajri yang tiba-tiba dan manggil sayang?

"Eh mas nya siapa? Dateng-dateng manggil sayang. Dia calon saya," ucap Parjo dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

"Calon lo? Dia calon istri gua. Minggu depan kita nikah. Nih undangannya buat lo kalo perlu lo jadi saksi. Gimana sayang sama desain undangan nya?" Fiki, Zweitson dan Fenly nampak menahan tawa. Cemburuan juga si Fajri. Asik juga buat bahan cengan nih.

"E...Bagus iya bagus,"

"Mba nya aja jawabannya ragu. Mas halu ya,"

"Siapa yang halu? Lo kali, Fen jelasin kek," Fenly mengangkat salah satu alisnya.

"Ck, bantu jelasin ke dia kalau gue calon ipar lo,"

"Oh iya, dia calon suami adik saya. Berkas mereka udah masuk ke KUA,"

"Iya mas sebaiknya mas jangan deket-deket deh. Tau ga, dia nih Maulana Fajri," jelas Fiki.

"Maulana Fajri? Ketua Rexsan ya? Ma-maaf mas. Ga maksud godain kok. Selamat makan,"

Seketika tawa Fenly, Fiki dan Zweitson pecah. Cuma nyebut nama panjang Fajri aja udah kabur. Sedangkan Raya sendiri hanya terkekeh. Ia jadi semakin yakin kalau Fajri adalah pemuda itu, pemuda yang suka asal jeplak saat bertemu dulu.

"Eh bentar, maksud lo apa ya manggil gua sayang?"

"Emang ga boleh? Sah sah aja kali kalau gua manggil lo sayang, kan gua calon lo,"

"Obat nyamuk berapaan ya?"

"Berapa nih pertahunnya?"

"Biarin Fik, Son, itung-itung liat drama gratis. Kalau udah kayak gini kita semua ngontrak- aduhh kok diinjek sih," Raya melotot kearah Fenly, ada-ada saja kakaknya ini.

"Gu-gua duluan. Undangannya kita bagi dua. Terserah lo mau manggil siapa aja. Assalamu'alaikum,"

"Waalaikumsalam,"







Dunia milik berdua, iya kan Ray.?

_pel    b_suk ~ Raya.

Astaga kode mulu.

Mana suaranya!!

Btw btw, ga jadi deh,

Nb : Jangan jadi silent readers ya. Hargai penulis/author dengan memberi votmen dan jika tidak suka dengan alurnya bisa pergi, boleh memberi masukan asal tidak menghina, paham?

Badboy My Husband : End✅ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang