20

2.2K 115 3
                                        

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 23:45. Raya sudah pergi ke alam mimpi. Perlahan Fajri keluar dari selimut dan menuju lemari. Ia mengambil jaket dan sarung tangannya. Buat celana, tadi ia sengaja menggunakan sarung untuk menutupi celana panjangnya. Pintar sekali bukan suami Rayana Archifa ini?

Tok tok tok

"Fen, lo masih didalem?" pintu terbuka dan menampakkan seorang pemuda dengan style yang hampir mirip.

"Raya aman?" tanya Fenly sedikit berbisik.

"Udah tidur dia. Yuk jalan, udah ditunggu ditempat biasa, jangan sampai ngaret, bukan gua banget," bisik Fajri.

"Bukan gua banget konon, nyatanya ngomong atapu ke Raya aja belum kesampaian,"

"Bacot, lo, Fen,"

Merdeka mulai mengendap-endap bakal maling, namun, saat kaki mereka belum sepenuhnya menyentuh anak tangga, seseorang menarik telinga keduanya. Fenly dan Fajri saling melirik.

"Raya?"

"Mau kemana? Rapi banget?" ucap Raya sambil melepaskan telinga kakak dan suaminya.

"Jalan-jalan bentar, iya ga, Ji?" Fenly menyenggol lengan Fajri.

"Iya nih, pengen cari angin,"

"23:51, jalan-jalan tapi pulang bawa luka, jalan-jalan atau nyari mati?"

"Ray, cuma sebentar kok. Kita janji ga akan ada luka ditubuh kita,"

"Iya Ray, kan kita undah damai,"

"Ya udah terserah,"

"Oke makasih sayang, yuk, Fen" Fajri menarik tangan Fenly. Sedangkan Fenly sendiri cemas. Ayolah dia tau bagaimana Raya, dia yang menjaga Raya dari kecil. Ia tau bagaimana raut wajah Raya saat marah, ngambek, sedih.

"Lo yakin mau pergi, Ji?" tanya Fenly sebelum menaiki motornya.

"Iya lah, mumpung Raya ijinin,"

*:..。o○ ○o。..:*

Sorak kemenangan terdengar dari Rexsan. Kali ini Fajri mengalahkan Fenly, kalau mau dihitung, Fenly selalu menang jika menghadapi Fajri. Tapi kali ini tidak, ia sudah menebak akan seperti apa jadinya saat ia pulang nanti. Ini yang paling membuat nya gusar, didiemin Raya. Kehilangan kecerian Raya menjadi ketakutan tersendiri untuk seorang Fenly Christovel.

"Yuk balik, Fen,"

"Manggil nya abang kali, Ji, dia abang ipar lo," ledek Zweitson.

Fenly hanya berdecak mendengarkan ocehan Zweitson dan meninggalkan Fajri. Ia tak mau telat pulang, ia tak mau lama-lama didiemin Raya. Rasanya ga enak banget.

Motor Fenly mulai meninggalkan area sirkuit. Sialnya, sudah pagi seperti ini masih saja ada lampu merah yang lamanya sampai 90 detik. Pengen banget ngelanggar, cuma takut kena tilang.

"Kenapa gue ditinggal?"

"Cepetan lo kekamar, Raya lagi ngapain?"

"Kenapa? Raya dalam bahaya?"

"Bukan Raya, tapi kita. Lo mau didiemin Raya?"

"Kenapa lo ga bilang dari tadi sih," Fajri berlari menuju kamar Raya. Saat ini dia lagi bucin-bucin nya sama Raya.

"Assalamu'alaikum," Fajri mendapati Raya tengah tidur membelakangi nya. Beneran marah ga yah?

Badboy My Husband : End✅ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang