40

1.6K 104 3
                                        

Wajah cemberut diperlihatkan Raya. Ia kesal dengan Fajri, menurutnya rasa sambal dari rujak yang Fajri bawa sangat mirip dengan buatan Umi nya. Walaupun Fajri terus mengelak, ia terus saja mengatakan kalau rujak buah nya ia beli.

"Pokoknya Kak Fajri bohong!" ucap Raya kekeh.

"Engga Raya, kakak beli."

"Iya buahnya beli, tapi sambalnya bikin," ketus Raya sambil terus memakan rujak.

"Buat apa ribut kalau tetep dimakan," lirih Fajri.

"Enak sih," ucap Raya dengan wajah tanpa dosa. Rasa kesal memang ada, namun karena rasa sayang lebih mendominasi, jadi Raya aman. Ya, tau sendiri lah gimana Fajri kalau lagi marah kayak apa.

"Ji," Fenly mengisyaratkan Fajri untuk berbicara berdua.

"Kakak kedepan dulu ya," Raya hanya mengangguk, ia masih fokus dengan rujak di depannya. Fenly dan Fajri pergi ke rooftop, sepertinya ada hal serius yang ingin dibicarakan.

"Paan?"

"Cegah Raya buat tatap muka sama perempuan tadi," ucap Fenly to the poin.

"Kenapa?"

"Ya gua ga mau aja Raya ketemu sama dia."

"Tega lo," timpal Fajri. Fenly menatap Fajri dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ya lo tega, masa ga bolehin Raya ketemu ibu kandungnya. Iya gua tau, dia udah buang Raya, tapi dia masih punya hak buat ngeliat anaknya, seenggaknya ngobrol," terang Fajri.

"Gu tau, lo takut kan kalau Raya pergi jauh, lo takut kalau lo ga bisa liat Raya dihari-hari lo, di pagi, siang, malam lo. Lo rapuh tanpa Raya dan Raya adalah alasan lo tetap ada dirumah ini, benerkan yang gua ucapin Fenly Alfenzo?" Fenly tersenyum kecut. Semua yang Fajri ucapkan benar adanya, dulu mereka bersahabat, cuma karena beda masuk geng jadi musuh, jadi ga heran kalau Fajri tau sedalam itu.

"Masih ingat ternyata and thanks lo ga umbar masalah gua ke anak-anak Rexsan."

"Fen, lo sahabat gua, lo juga tau luar dalam gua, ga mungkin gua lakuin itu semua."

"Ji, kalau semisal gua ga disini lagi, gua minta sama lo buat jaga Raya ya, gua percaya sama lo," Fenly menatap langit.

Seorang pemuda baru saja mematikan motor Ninja merah miliknya. Ekstrakurikuler basket membuatnya pulang lebih lambat.

"Umi, Fen pulang!" tak ada jawaban, ia pun menuju ruang tengah. Biasanya sang umi akan menyambut nya didepan pintu.

"CUKUP MAS, AKU INGIN RAYA PULANG KESINI!" samar-samar ia mendengar teriakan umi nya.

"ALMA! Raya bukan anak kamu. Fokus saja pada Ricky dan Fenly," jawab seorang yang Fenly yakini itu abinya.

"Kamu sama saja dengan wanita itu."

"Kenapa kamu jadi membandingkan aku dengan Lina?"

"Dengan kamu membawa Raya ke padepokan, sama saja kamu membuang Raya. Kamu membawa Raya tanpa alasan yang logis, apa itu ga sama? Hanya beda tempat dan cara kamu membuangnya," tegas Alma.

Fenly terkejut, jadi Raya bukan adik kandung nya? Fenly langsung masuk ke kamar orang tuanya saat abinya hendak menampar uminya

"Begini cara abi memperlakukan umi?" ucap Fenly dengan nada datar.

"Diam kamu!"

"Abi ini kepala keluarga, seorang ayah, berikan contoh yang baik ke kami, bukan kayak gini," lanjut Fenly.

"Berani kamu ceramahin abimu ini?"

"Buat apa aku takut? Abi udah membuat luka dihati umi, apa itu belum cukup bi, sampai-sampai abi mau nampar umi?"

"Fen," Alma mencoba menenangkan.

"Soal Raya, Raya ga berdosa bi, Raya ga salah. Tapi kenapa Raya yang mendapat semua hukuman atas semua perbuatan abi sama perempuan itu, kenapa Raya bi?" Fenly menarik napasnya sejenak. Tangannya juga sudah mengepal, ingin rasanya melayangkan tinjuannya tepat dimuka abinya ini.

"Raya anak abi, darah daging abi, dengan teganya abi ngebiarin Raya hidup mandiri sedangkan aku dan Bang Iky dibiarkan hidup disini dengan penuh kasih sayang dan dari kalian, apa itu adil buat Raya? Ga adil bi, kalau abi lakuin itu ke aku, it's okay, aku ngerti, Raya perempuan harus punya perhatian khusus. Tapi ini apa bi? Abi sangat ga adil," Fenly berlalu dari kamar orang tuanya. Fariz terdiam, yang diucapkan putranya ada benarnya juga. Raya ga salah, dia anak yang suci, yang salah dirinya dan Lina. Fariz mengejar Fenly yang sepertinya akan pergi lagi.

"Mau kemana?"

"Peduli apa? Ga usah akting menjadi seorang ayah, kalau anda tidak bisa adil," tegas Fenly.

"Fen, jangan pergi ya, kamu baru pulang loh," Alma tau seperti apa putranya ini. Kalau sedang emosi maka akan sulit diredakan, kecuali Raya. Hanya Raya yang bisa meredakan amarah Fenly.

"Bawa Raya pulang, baru aku pulang kerumah ini."

"Yah malah ngelamun, kesambet ntar," ucapan Fajri membuyarkan lamunan Fenly.

"Beli rumah yuk, terus kita tinggal bareng sampai kakek nenek," lanjut Fajri.

"Gua jadi nyamuk? Ga."

"Lo kan bentar lagi nikah, ajak bini lo juga bambang," geram Fajri.

"Kapan?"

"Besok nyari," kembali hening. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.













Oke sedikit demi sedikit masalalu Raya terungkap nih.
Oh ya, kata Kovel sama Kaila, kalian diundang ke acara mereka.

Lah kapan gue ngundang nya? ~ Fenly

Kaila yang ngomong sama saya

Iya Fen, biar mereka jadi saksi kebahagiaan kita ~ Kaila

Apaan, pas gue aja ga ngundang siapa-siapa, lapak siapa sih sebenernya ~ Fajri

🏃🏃

Badboy My Husband : End✅ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang