Twenty One

1.3K 107 418
                                        

Sama seperti kemarin, Agea dibuat sial lagi oleh Age. Abangnya itu tak biasanya terlambat berangkat, dua hari sebelum ini selalu pagi. Kali ini, dengan seragam lengkap sudah Agea kenakan ia membuka pintu kamar Age dengan gebrakan.

Pintu terbuka, Abangnya hilang. Tak ada seseorang di kamar nuansa gelap itu. Padahal sudah ada dua lampu diatas, tetap saja gelap. Mungkin karena cat dindingnya berwarna abu kelabu. Ditambah gorden belum dibuka.

"Bang?"

Agea mengecek kamar mandi. Ternyata pintunya tidak tertutup. Setelah dicek pun tak ada siapa-siapa. Hanya ada cermin kecil bertengger di sana. Juga closet yang dibiarkan terbuka.

Agea memilih berjalan ke sudut kamar. Membuka gorden motif dedaunan maple itu secara perlahan.

"Dor!!!"

Brak!

Bunyi dentuman terdengar nyaring ke seluruh sisi kamar. Agea terjatuh tatkala dirinya terlalu kaget saat menyibak gorden tengah. Age mengerjainya dengan mengagetkannya. Jantung Agea berdegup kencang.

Seraya berdiri, tangan kadis itu mengibas rok belakangnya. "Makan hati gue jadi adek lo bang!" Age masih sibuk tertawa.

Tawa itu tak berhenti terlebih melihat raut wajah adik perempuannya. Agea mendekat ke Abangnya, jemarinya sudah siap mencubit saudara jahannam itu. Kalah telak, Age sudah tau ancang-ancang Agea.

Kini langkah Age menyeret dirinya keluar kamar. Tentu dia sudah mengenakan seragam SMKnya. Hentakan kaki berdentum di lantai. Agea melangkah keluar kamar Age dengan kesal. Tak lupa menutup pintu dengan kuat-kuat. Hingga bunyi gebrakan terdengar nyaring.

Age mengambil kunci di rak dekat TV. Kini seraya memainkan kunci itu dengan tangannya, ia pamit ke Mia. Sedangkan Fadli sudah ke kantor dari jam enam pagi.

Agea mengikuti Abangnya kesal. Satu tendangan mendarat ke punggung Age. Puas, begitu yang dirasa Agea.

Gadis itu cepat mengelak ketika Abangnya dengan rintisan menoleh ke belakang. "Ets kita impas jangan dendam." Agea menyerngir.

Tangan Age tak sampai untuk mengusap bagian belakang tubuhnya. "Wah kayanya udah ungu nih punggung gua gara lo." Agea mengangkat kedua bahunya tak peduli.

"Siapa suruh betingkah?" Agea mencibir.

"Oh gitu? Okey, b-y-e." Age mengeja kata terakhir dalam kalimatnya. Kini, motor ia lajukan. Tak lupa mengirim klakson. Sementara Agea menatap itu tak percaya. "Bang? Gila? Ditinggal nih?!"

Tak ada sautan dari Age Mannawa itu. Ia memilih terus berjalan sesuai jalur. Meninggalkan perkarangan rumah. Menuju jalan lintas utama.

"Ah Age kampret."

Yap, jalan satu-satunya yang tersisa sekarang adalah mencari angkot. Selamat tinggal ke sekolah tepat waktu.

***

Siapa suruh membalas mengerjai Age? Benar, ini murni kesalahan Agea. Walau tak sepenuhnya, coba saja hari ini Abangnya tidak berpura-pura bersembunyi. Mengagetkannya dibalik gorden dengan wajah sumringah. Pasti tak akan ada malapetaka terlambat datang ke sekolah.

Ini pertama kali dalam hidupnya semenjak bersekolah. Agea selalu datang awal baik itu dari sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Jadi, begini rasanya telat. Agea dengan yang lainnya, total ada lima siswa berbaris didekat kolam pas masuk gerbang.

Ketua OSIS, Bang Gio berdiri tepat didepan barisan. Matanya bergantian menatap barisan. Ketika tatapan pada Agea. Dia sedikit menatap lama. "Lo pacar Imam ya?"

Agendra ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang