HAPPY READING
.
.
.
.
.
*****
Dua pria berbeda usia itu pun menengok ke arah pintu.
Damian hampir akan memaki dan menghajar orang itu yang dengan tidak sopan nya masuk tanpa ketuk pintu dan izin dari nya.
Dan niatan itu langsung ia buang jauh - jauh saat tau siapa orang nya. Bisa mati ia di tangan wanita di depan nya ini kalau memang makian itu sampai keluar.
***
Ayah dan anak itu sedang makan siang nya dengan khidmat dan lahap nya. Alana selalu merasa senang dan bangga setiap Damian dan Sean selalu memakan masakan nya dengan lahap.
Baby Nio sudah ia letakan di kamar yang memang di sediakan di ruangan Damian ini. Luas dan lengkap nya pun tak kalah nya seperti kamar di rumah mereka, ya, walaupun di rumah lebih dari disini.
Begitupun di ruangan Sean, terdapat kamar juga untuk nya istirahat. Bahkan pakaian nya pun cukup banyak.
"Kamu kapan balik lagi ke kantor mu sendiri? Punya perusahaan sendiri tapi masih kerja disini. Kurang duit kamu sampai masih kerja di perusahaan ayah?" Damian menyandarkan sedikit tubuh nya ke sandaran sofa karena merasa kekenyangan.
"Sudah ada orang kepercayaan ku yang menangani nya" begitupun Sean, Sean menyandarkan tubuh nya seperti apa yang Damian lakukan. Masakan ibu nya sungguh makanan terenak di dunia menurutnya. Sampai - sampai ia tadi habis banyak.
Mungkin darah Asia yang mengalir di tubuh nya sangat kental, sampai - sampai kalau tidak makan nasi sehari saja seperti belum makan.
Begitupun Damian. Yang terbawa kebiasaan Alana dan juga Sean. Terlebih lagi dulu mereka pernah menikah. Karena memang dasar nya orang Eropa jarang makan nasi. Tapi lain hal nya seperti mereka.
"Mau jadi apa perusahaan mu kalau boss nya saja seperti ini? Punya perusahaan sendiri tapi bekerja di perusahaan orang"
"Buktinya perusahaan ku baik - baik saja. Tidak ada kendala sedikitpun" Damian menghela nafas kasar. Memang tidak akan ada habis nya kalau adu mulut dengan putra nya yang satu ini.
"Terserah kamu" jawab Damian kesal.
Alana yang sedang membereskan sisa makan Damian dan Sean pun terkekeh lucu melihat nya.
Ayah dan anak itu jika tidak adu argumen sehari saja tidak enak. Tapi disitulah kedekatan kedua nya.
Justru kalau tidak adu mulut sehari saja seperti ada yang kurang. Rumah sepi rasanya.
Bahkan terkadang dua pria itu berkelahi kejar - kejaran mengelilingi rumah sambil membawa tongkat bisbol atau gagang sapu, seperti anak kecil memang.
Yang Alana lakukan hanya menghela nafas melihat kedua nya, karena dinasehati pun tidak ada guna nya.
Tapi kalau dia sudah jengah lalu ia teriak baru kedua nya diam ketakutan.
"Lagi pula sebentar lagi juga perusahaan ini aku yang akan mengurusnya?"
"Maksudnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
RETURN MY CHILD
Ficción GeneralKau menghancurkan hidup ku yang sudah tidak ada apa - apa nya ini.
