Kelabu

951 100 27
                                        

Genggaman tangan Fathan pada Tita tak kunjung terlepas. Terhitung sudah tiga jam sejak kedatangan mereka di rumah sakit. Saat ini, Fathan masih bergelut dengan pikirannya. Menurut keterangan dokter, Tita baru saja mengalami pelecehan seksual.

Fathan marah. Sangat-sangat marah. Ia ingin membalas apa yang dialami adik sepupunya, tapi kepada siapa dia harus membalas? Bukankah Tita dan Roland merupakan sepasang suami istri? Lalu mengapa bisa terjadi pelecehan? Siapa pelakunya?

Ingin sekali dirinya mendatangi Roland dan menuntut penjelasan. Namun, Fathan tidak tega jika harus meninggalkan Tita seorang diri di rumah sakit.

Lenguhan yang terdengar mengalihkan Fathan dari lamunan. Tita membuka mata dengan perlahan.

"Sudah bangun?" Fathan mengelus pucuk kepala Tita.

"Engh ... Fath?"

"Ada yang sakit?"

Tita menggeleng. Lalu melepas genggaman tangan Fathan yang tiba-tiba terasa tidak nyaman. Tidak cukup sampai di situ, Tita juga menggeser kepala yang dielus kakak sepupunya itu. Ada rasa sakit dan takut yang Tita rasakan. Dada dan perutnya terasa sesak juga panas. Tanpa hitungan menit, air mata menggenang di pelupuk mata. Karena mengingat apa yang sudah menimpanya.

"Tita. Hey. Tidak apa-apa. Kamu sudah aman sekarang." Fathan kembali menggenggam tangan Tita. Namun ditepis lagi. Tita menggeleng pelan, air mata yang tadi terbendung mengalir sudah. Kedua tangannya kini menggosok kedua lengan dan mengibas-ngibaskan tubuh bagian depannya. Ia merasa ada banyak noda yang menempel di sana.

Fathan yang melihat itu menjadi panik. Berulang kali mencoba menenangkan, berulang kali pula ditolak.
Gerakan tangan Tita kian menjadi. Selang infus yang berada di punggung tangan tak luput dari jangkauannya. Tita mencoba mencabut dengan paksa.

"Tita. Apa yang kamu lakukan?!" Fathan kini merangkul tubuh Tita, membuat isak tangis Tita semakin keras.

"Le-pas!" Tita terus berontak. "Lepaskan aku!"
Menyadari keadaan Tita yang tidak baik-baik saja, Fathan segera menekan bel yang berada di sisi ranjang. Beberapa saat kemudian, dua orang perawat datang. Membantu Fathan untuk menenangkan Tita.
Lepas dari tangan Fathan, Tita sedikit lebih tenang. Seorang perawat begitu cekatan balas memeluknya yang seolah-olah mencari perlindungan.

Mendapati hal itu, Fathan mulai tersadar. Tita tak ingin disentuh olehnya. Perlahan Fathan menjauh, membuat jarak dari Tita yang kini tengah meringkuk sembari memeluk salah satu perawat.

"Maaf, Bapak boleh ikut saya sebentar?" kata salah satu perawat.

Fathan pun menurut, mengikuti langkah kaki perawat itu keluar dari ruang rawat. Sesampainya di luar, perawat berkata, "Maaf, Pak. Sepertinya pasien mengalami trauma. Sehingga membuatnya tidak nyaman bersentuhan dengan lelaki." Perawat yang mengetahui keadaan pasiennya berspekulasi.

"Trauma?" Fathan sudah menduga, tapi mendengar penjelasan perawat tersebut, seakan ada batu besar yang menghantam dadanya.

"Itu baru dugaan saya, Pak. Untuk lebih jelasnya, silakan tanyakan pada dokter Meisya yang menangani pasien." Setelah menjelaskan, perawat itu pergi. Meninggalkan Fathan yang diam mematung. Memikirkan sejauh mana perlakuan buruk yang Tita dapat, sehingga menyebabkan rasa trauma.

Kedua tangan Fathan mengepal, tanpa menunggu penjelasan dokter atau Tita, ia segera menuju biang masalah yang sudah bisa dipastikan siapa orangnya.

***

Di meja makan dapur, Roland duduk sendiri. Di atas meja terdapat segelas kopi yang sudah dingin. Belum diminum sama sekali. Sejak tadi ia berpikir tentang satu hal. Apa yang ia lakukan semalam?

Marrying Mr. GTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang