Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan menanggapi perlakuan Mas Roland. Aku sudah terlalu jauh melibatkan hati dan perasaan.
Seharusnya tidak mengharapkan Mas Roland jatuh cinta padaku, seperti aku yang mulai memiliki rasa tertarik padanya. Senyuman, pelukan, serta ciuman darinya untukku hanyalah palsu. Sejak awal aku memang hanyalah istri bayaran, yang seharusnya tahu diri dan mengikuti kemauan dia dengan alasan balas budi.
"Habis berapa semua?" Mas Roland menanyakan total belanjaan ketika aku sampai di dalam mobil. Mungkin dia berniat mengganti uang yang kubelanjakan di mini market terdekat dengan kafe tadi. Wacana belanja bersama hanyalah bohongan. Kami memang pergi bersama, tapi saat belanja, aku sendirian dan dia menunggu di mobil.
Padahal tadi sudah kupaksa untuk belanja di pasar saja, karena di mini market harga sayuran dan bumbu dapurnya serba mahal. Kalau di pasar, kan, masih bisa ditawar. Jiwa keibu rumah tanggaanku berjalan. Selain naluri, mungkin karena sebelumnya aku sudah terbiasa dengan hidup dalam keterbatasan.
Mendengar penolakanku diajak ke mini market dengan alasan harga, Mas Roland malah langsung bilang jika dia akan menambahkan uang belanja hari ini. Malas berdebat, aku pun menuruti.
"Nggak perlu, Mas. Uangku cukup, kok." Mengucapkan kata uangku, entah mengapa seakan ada batu kerikil yang menyentil hatiku. Uang yang selama ini kupegang memang dari Mas Roland. Dia mentransfer setiap awal bulan. Sesuai perjanjian awal, kalau dia akan memberi nafkah dari segi materi.
Kalau sudah begini, semakin tersadar di mana posisiku sebenarnya.
"Sudah, ambil saja." Mas Roland meletakkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke dalam tas belanja yang penuh terisi sayuran dan bumbu dapur. Sekali lagi kenyataan menamparku, bahwa kami berdua terlibat hanya karena perkara uang.
Baiklah, harusnya aku masih bisa kembali menyadarkan diri sendiri, jika pernikahan kami ini hanya sementara. Pura-pura.
"Terima kasih." Kuambil uang ratusan ribu itu dan menggenggamnya dengan erat. Dari sudut mata sempat kulihat Mas Roland melihatku dan tidak balik kutatap.
***
Duduk bersila di sofa ditemani serial kartun Minions. Daguku kutumpu pada kedua telapak tangan. Sedangkan kedua siku kuganjal dengan bantal Hello Kitty di pangkuan.
Ini sudah pukul sembilan malam. Mas Roland keluar sejak pukul tujuh tadi dan belum pulang. Katanya, dia mau makan malam di luar. Meninggalkan aku sendirian. Itu sudah biasa. Setidaknya, kemarin-kemarin aku merasa begitu.
Namun, sejak kenyataan yang baru tadi siang kuketahui, semua menjadi terasa berbeda. Aku merasa diabaikan dan hanya diperlukan dalam satu waktu. Dia membutuhkanku hanya di saat-saat tertentu. Sebagai pekerja di rumah dan juga penambah peran dalam drama kehidupannya.
Tarikan dan embusan napasku terus berulang. Ada rasa sesak yang sejak tadi sulit sekali dihilangkan.
Kembali teringat dengan hatiku yang terlalu sensitif dan mudah luluh dengan perlakuan manis tapi kemungkinan besar itu cuma bohongan.
Mungkin semestinya hati ini mulai kubentengi dengan tembok tinggi-tinggi untuk lelaki yang bernama Roland. Sialan!
Aku jadi teringat dengan pertanyaan Akbar beberapa bulan yang lalu. Dia sempat meragukan jika aku yang akan jatuh cinta lebih dulu pada kakaknya. Pada kenyataannya, itu memang terjadi. Aku jatuh cinta sebab perlakuan Mas Roland yang belum jelas dasarnya.
Mengenaskan sekali wahai hati, yang mesti ragu-ragu hanya untuk bersemi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying Mr. G
Storie d'amore18+ Tita butuh uang, dan Roland menawarkan sebuah pernikahan dengan uang sebagai imbalannya. Sejak awal Tita tahu kalau Roland seorang gay, tapi menurutnya tak apa. Toh yang dia butuhkan hanya uangnya saja. Pernikahan mereka hanya atas dasar simbios...
