Jangan kaget, jangan kaget.
Karena sudah up lagi.
Percayalah. Aku pasti akan up kalau memang tulisannya sudah siap. Kalian tahu, hal apa yang membuatku lancar nulis bab ini? Ya karena aku ngerasa memang ada yang nungguin.
Jadi, kalian rajin komen, ya. Aku sengaja datengin tokoh baru, buat meramaikan puncak konflik yang sebentar lagi akan datang.
Happy reading ....
❄❄❄
Jika ditilik dari tujuan awal pernikahanku dengan Mas Roland, juga permintaan dari Papa serta Akbar, mestinya aku sudah hampir mencapai keberhasilan.
Selama pernikahan kami yang kini mencapai tujuh bulan, lebih dari separuh waktu perjanjian. Mas Roland sudah mau bersentuhan dengan lawan jenis. Sampai ciuman, malah.
Ya, walau ciuman serta sentuhannya untukku cuma akting, tapi setidaknya itu terjadi tanpa paksaan. Mas Roland juga tidak pernah cuci tangan atau bibir setelah bersentuhan denganku. Artinya dia tidak jijik padaku, kan?
Terus ... maksud dari permintaan punya anak dariku semalam itu termasuk di opsi yang mana?
Karena dia memang sudah berubah, atau karena akting juga?
Kalau akting semata, tapi untuk apa? Semalam hanya ada kami berdua. Tidak ada Audrina.
Ish! Lelaki gay itu memang paling pandai mengobrak-abrik perasaanku. Menikah dengannya, aku jadi melewati banyak rasa. Takut, bahagia, sedih, senang, bahkan melting. Lalu diakhiri dengan kecewa.
Eh, tapi ... aku tidak apa-apa.
Iya. Aku baik-baik saja. Seperti saat sekarang Mas Roland menatapku yang sedang menyiram bunga di halaman belakang dari jendela. Aku tidak akan salah tingkah hanya dengan ditatap seperti itu.
Harusnya saat ini yang kulakukan adalah marah dan tidak terima, karena sudah dijadikan partner memanas-manasi mantan tanpa persetujuanku terlebih dahulu, 'kan?
Okey, mungkin aku harusnya tahu diri dan balas budi. Akan tetapi ini tuh sudah jauh melenceng dari perjanjian awal.
Kalau terus-terusan diajak sandiwara terus dibaper-baperin begitu, bagaimana kalau aku nanti semakin jatuh—
"Kopi saya mana?"
"Cinta!" Teguran dari Mas Roland mengeluarkan satu kata terakhir dalam lamunanku.
"Cinta?" Mas Roland mengerutkan dahi. "Saya nanya kopi, bukan cinta."
"Mas ngagetin!" Aku menggerutu. Jantungku berdebar-debar, bukan karena melting seperti kemarin, tapi kaget. Mas Roland tahu-tahu sudah ada di belakangku.
Untung saja selang air yang kupegang tidak mencuat mengenai tubuhnya yang sudah berbalut kemeja.
"Kopi saya?" Mas Roland menatapku datar. Seperti merasa kesal karena pertanyaannya kuabaikan.
Apa dia baru tahu, kalau bertanya lalu diabaikan rasanya akan semenyebalkan itu? Aku mah, sudah khatam.
"Eh, Iya. Bentar. Aku matiin air dulu," jawabku. Lalu pergi ke dapur meninggalkan Mas Roland yang masih bertahan menatapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying Mr. G
عاطفية18+ Tita butuh uang, dan Roland menawarkan sebuah pernikahan dengan uang sebagai imbalannya. Sejak awal Tita tahu kalau Roland seorang gay, tapi menurutnya tak apa. Toh yang dia butuhkan hanya uangnya saja. Pernikahan mereka hanya atas dasar simbios...
