Belakangan, Mas Roland mengurangi jam kerjanya di kantor. Dia lebih sering pulang cepat ketimbang biasanya. Pukul enam sore dia sudah berada di rumah. Kami jadi lebih sering bertemu, meski aura dinginnya itu tidak luntur sama sekali. Dia seperti manekin. Diam tanpa ekspresi.
Itu jauh lebih menyebalkan ketimbang aku di rumah sendiri. Kenapa tidak menjauh saja jika memang benar-benar tidak ingin menuruti keinginan Papa? Membuat jarak itu lebih baik, karena dengan begitu, kami tetap akan saling asing.
"Arghhh!!" Aku menggeram berulang kali layaknya singa. Tidak hanya suara, kini rambutku juga sudah mirip seperti hewan penguasa rimba itu. Beberapa malam aku kurang tidur, terlampau memikirkan jalan hidupku.
Setelah mencuci wajah, aku menatap pantulan wajah seorang wanita di cermin kamar mandi. Dia adalah aku, yang saat ini lebih mirip seperti orang yang tengah kehilangan harapan.
Setelah obrolan di balkon saat itu, aku dan Mas Roland semakin jarang berinteraksi. Dia tidak ingin menuruti keinginan Papa, sedangkan aku dilema dengan tanggung jawab yang Papa dan Akbar tumpuk di bahuku.
Ucapan mereka secara bergantian berkelebat dalam benak. Akbar mengatakan jika aku wanita yang tepat untuk kakaknya, sedangkan Papa begitu memohon akan kesediaanku membantu merubah anaknya untuk kembali ke jalan yang seharusnya.
Terakhir, ucapan dari Sang Pemeran Utama. Dia sempat mengejek fisikku dengan tatapan matanya di balkon waktu itu.
Kuperhatikan tubuhku di cermin dengan lebih saksama. Sebenarnya, aku tidak terlalu buruk. Hanya betis dan pahaku memang tidak terlalu langsing dan jenjang. Lalu kusingkap kaos, menampakkan perut yang bisa dibilang ramping. Meski tidak seramping dulu, sebelum menikah.
Baru kusadari, beberapa Minggu terikat dengan Mas Roland, aku sudah jarang berolahraga. Ditambah aktivitas mengemil tanpa lagi bekerja. Pantas saja semua lemak itu bersarang di tubuh penedekku ini.
Tunggu sebentar. Apakah bentuk tubuhku yang terlalu pendek ini menjadi salah satu alasan Mas Roland menolak permintaan Papa?
Oke, baiklah. Tinggiku memang hanya 155cm. Jauh di bawah Mas Roland yang kutaksir memiliki tinggi badan 180cm.
Mungkinkah dia itu sebenarnya masih menyukai wanita? Dengan cacatan harus memiliki bentuk tubuh ideal dan sempurna?
Hanya saja, dia masih gengsi untuk mengakui fakta tersebut . Mungkin karena rasa sakit hati yang berujung trauma.
Entah mengapa, aku begitu yakin bahwa sebenarnya Mas Roland itu masih lelaki normal, yang bisa mencintai wanita sebagaimana mestinya.
***
Aku menuruni tangga dengan sedikit ragu. Mengingat adanya alat gym di rumah ini, mungkin ada baiknya mulai sekarang aku aktif kembali membakar lemak dan kalori.
Walau belum tentu mendapatkan izin untuk menggunakan alat gym milik Mas Roland, aku sudah bersiap dengan mengenakan sport bra warna putih yang tidak sampai menutup pusar. Sedangkan bawahnya celana training sepaha yang dulu sering kugunakan untuk lari pagi.
Lalu kututupi tubuh bagian atas dengan hoodie over size, yang rencananya akan kubuka ketika di dalam ruang gym nanti.
"Mas." Mas Roland menoleh ke arahku. Dia sedang sibuk di depan kompor. Entah sedang apa, aku tidak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying Mr. G
Romans18+ Tita butuh uang, dan Roland menawarkan sebuah pernikahan dengan uang sebagai imbalannya. Sejak awal Tita tahu kalau Roland seorang gay, tapi menurutnya tak apa. Toh yang dia butuhkan hanya uangnya saja. Pernikahan mereka hanya atas dasar simbios...
