Lepas atau Pertahankan

1.1K 121 13
                                        

Doble up, doonggg.
Yuk, ramaikan. Karena bojomu adalah semangatku.

//Plakk!// Salah!

Komentarmu adalah semangatku.  \(^o^)/

Waktu tidur Tita merupakan moment yang Fathan tunggu-tunggu. Karena hanya pada saat itu ia dapat menjenguk. Tita tetap histeris ketika melihat apalagi didekati oleh Fathan. Perawat itu benar. Dokter memberi penjelasan bahwa Tita mengalami trauma.
Adik sepupunya kini berada pada puncak pertahanan.

Sudah tiga hari berlalu. Luka di lengan Tita sudah mengering, tapi luka mental yang ia alami belum berkurang sedikit pun. Bahkan sejak kemarin Tita membuat perawat kelabakan. Karena setiap kali Tita terjaga dalam kondisi seorang diri, ia pasti akan ke kamar mandi. Menyiram seluruh tubuh serta menggosok-gosok di semua bagian. Tita merasa kotor, sebanyak apa pun air yang menyiram tubuhnya masih terasa kurang.

Perawat menyarankan agar Tita mandi pakai sabun dan shampo agar wangi dan bersih. Alih-alih menerima, Tita justru muntah-muntah setiap menghirup aroma wewangian dalam bentuk apa pun. Itu membuat rambut Tita kusut karena mandi tanpa shampo. Kulitnya mulai kering, karena tak tersentuh sabun dan lotion.

Di sisi ranjang, Fathan terisak. Menahan sesak dalam dada yang akhir-akhir ini membuatnya tidak bisa tidur. Ditambah ketidaksudian Tita untuk sekadar didekati, Fathan semakin tersiksa karena hanya mampu menatap dari balik pintu setiap Tita terjaga. Lalu mendekat saat sudah tidur.

"Maaf, Tita. Aku sudah mengingkari janji untuk menjagamu. Maaf, karena tidak menolongmu saat itu. Maaf, karena sejak dulu seharusnya aku sudah memintamu untuk berpisah dengan lelaki itu. Maaf, Tita. Maaf ...." Fathan menangkup telapak tangan Tita yang terbebas dari infus. Digenggamnya tangan halus dan lemah tersebut. Membawanya pada kening dengan kepala yang tertunduk.

Fathan menyesal. Sangat. Harusnya sejak dirinya mulai menyadari kalau hubungan antara Tita dan Roland tidak sewajar suami istri pada umumnya, Fathan mulai serius mencari tahu. Satu-satunya hal yang memberatkan Fathan untuk tidak mengorek lebih jauh soal kecurigaannya itu adalah, karena Tita enggan untuk bercerita. Itu artinya, Tita tidak ingin kehidupan rumah tangganya dicampuri. Fathan menghargai itu.

Lalu ketika lengan Tita terluka, Fathan tahu itu bukan karena luka sayatan pisau. Karena ada beberapa goresan kecil di samping luka utama. Lagi-lagi Tita berbohong dan itu membuatnya merasa cukup kecewa. Meski begitu, Fathan tidak memaksa. Ia tahu, setiap orang berhak memilikil privasi.

Selama ini, setiap kali mereka bertemu, Fathan hanya bisa bertanya, "Apakah lelaki itu menyakitimu?" Dan untuk pertama kalinya Tita menjawab, "ya". Pada saat itulah Tita sudah berada di ujung kemampuan untuk bertahan.

"Tidak ...." Gumaman Tita menghentikan lamunan Fathan.

"Jangan ...."

"Bukan begini ...."

Tita terus bergumam dalam tidurnya. Fathan tahu adiknya sedang mimpi buruk. Ia menghapus bulir keringat di dahi Tita. Membelai rambut hitam yang terasa lengket karena keringat. Perlahan, Tita mulai tenang. Napasnya yang memburu kini kembali teratur. Fathan menekan dadanya yang semakin terasa sesak. Melihat adiknya yang dulu ceria, menjadi seperti ini. Fathan pun keluar ruangan setelah Tita benar-benar terlelap.

Sesampainya di luar, Fathan menuju taman samping rumah sakit. Duduk sendiri, memikirkan jalan untuk adiknya. Dia harus membuat Tita menjadi janda di usia semuda itu. Apakah ini jalan terbaik?

Melihat bagaimana traumanya Tita, Fathan yakin, bukan kali ini saja Tita mendapat pelecehan dari lelaki. Fathan tahu, Tita tidak selemah itu.

Fathan merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Mencari nomor kontak seseorang lalu melakukan panggilan. Menempelkan di telinga, menunggu panggilannya di angkat oleh orang di seberang sana.

Marrying Mr. GCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang