sembilan

1.1K 97 7
                                        

Pagi tadi, niat untuk sarapan bersama Mas Roland kuurungkan, tidak ingin masuk rumah sakit karena asam lambungku kambuh jika menunggu terlalu lama. Tapi ternyata, dengan alasan lain dan bahkan lebih mengerikan, aku terbaring di sini. Dengan kepala dibalut perban, serta sebelah tangan terpasang jarum infus. Sendirian. Saat baru siuman dua jam yang lalu, hanya ada suster di sini. Tidak ada siapa pun selain dia.

Rambutku sempat dicukur sedikit untuk menjahit luka yang dalamnya dua centi. Tidak terlalu dalam, tapi ujung asbak tadi cukup untuk melukai kulit kepala siapa saja jika dilempar dengan jarak kurang dari sepuluh meter. Beruntung, karena ukuran asbaknya tidak terlalu besar, dan kurasa dia melemparnya juga tidak dengan tenaga yang maksimal.
Tapi meski begitu, aku sempat syok dan pingsan. Tekanan darahku juga menurun drastis. Mungkin karena bercampur antara ketidak percayaanku atas perlakuannya, serta kaget karena kejadiannya begitu tiba-tiba.

Kalau tidak memikirkan akibatnya, sudah pasti kulaporkan kejadian tadi ke kantor polisi. Sejujurnya, aku merasakan sakit dan kecewa yang luar biasa. Mengingat lagi urusannya yang pasti akan berbuntut panjang, aku pun mengurungkan niat tersebut.

Sebenarnya, aku bukanlah wanita yang cengeng dan lemah saat terluka, tapi jika sudah bersangkutan dengan hati dan harga diri, aku sulit diajak bekerja sama.
Aku membenci Mas Roland. Sungguh!
Kami baru beberapa hari menikah, dan jika dihitung-hitung, jumlah uang yang diberikannya untukku, tidak sebanding dengan yang dulu orang tuaku berikan. Mereka bahkan tidak pernah sekali pun melakukan kekerasan terhadapku. Tapi Mas Roland? Dia begitu semena-mena.

Suara pintu terbuka menghentikan lamunanku. Ada rasa takut dan was-was jika itu suamiku.
Rasa ingin bertemu Akbar jauh lebih besar dibanding dengan dirinya.

Dugaanku salah. Ternyata, yang datang bukan Akbar atau Mas Roland, melainkan Juan. Dia membawa kantong plastik yang kuduga berisi makanan. Bukankah Juan juga turut bersalah karena tidak mencegah Mas Roland melakukan kekerasan terhadapku?

Tanpa memedulikannya, aku memilih memalingkan wajah, menahan gejolak amarah di dalam dada.

"Makan dulu, Bu. Lalu minum obat." Tanpa basa-basi, dia menyuruhku makan. Seharusnya yang datang ke sini dan membujukku itu bukan Juan, melainkan Mas Roland. Tapi itu suatu kemustahilan. Selain sadar diri siapa aku, juga mengingat sifatnya yang sedingin es batu, maka hal yang seperti itu tidak akan mungkin terjadi.

"Ibu harus cepat sembuh, jangan sampai Tuan Besar tau Ibu di sini. Bapak pasti bingung mau menjelaskan bagaimana, nanti." Oh, jadi dia hanya memikirkan bosnya saja? Khawatir jika apa yang sudah bosnya lakukan terhadapku ketahuan?

"Tadi itu, sebenarnya Bapak tidak berniat melempar asbak di kepala Ibu. Sungguh. Bapak hanya ingin menggertak, tapi tanpa diduga lemparannya meleset." Dia terus berbicara, meski tidak kurespon sama sekali. Sengaja atau pun tidak, itu sudah terlanjur menyakiti hati serta fisikku.

"Bapak paling tidak bisa mendengar keributan saat bekerja, Bu. Beliau akan merasakan sakit di kepala, sulit untuk fokus. Sedangkan pekerjaan tadi sangatlah penting, dan harus selesai hari ini juga. Ibu tau, kan, Bapak tadi bangunnya kesiangan? Jadi harus memburu waktu." Aku masih mendiamkannya.

"Bu Tita ...." Itu adalah kali pertama dia memanggil namaku. Aku menoleh, menatap matanya yang menyiratkan rasa kasihan. "Saya bawakan bubur ayam dari tempat favorit saya, karena saya tau, makanan rumah sakit tidak enak, bukan?" Juan merayuku. Nada bicaranya amat lemah lembut, mirip seperti Akbr. Dari ketiga lelaki itu, kenapa yang menjadi suamiku harus si Manusia Kulkas?

Aku mencoba bangkit. Tidak kumungkiri, rasa lapar sudah sejak tadi terasa. Hanya saja, benar kata Juan, makanan di rumah sakit sangat tidak enak. Tidak kusentuh sama sekali.

Marrying Mr. GTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang