Clo menyodorkan surat pengunduran diri serta menyerahkan lencana kesatuannya ke Tuan Campbell dan Tuan Wright. Bulat tekadnya untuk membalaskan dendam rasa sakit di hati tanpa membawa embel-embel tentara yang sudah melekat 15 tahun pada dirinya.
"Kamu yakin? Menjadi Sersan Mayor tidak mudah." Tuan Wright mencoba menahan keputusan Clo. Sama ketika dulu Bum mengutarakan niatnya, ia menyuruh Bum pikirkan baik-baik kalau pangkat yang diembannya sekarang sangat sulit didapatkan. Perlu bertahun-tahun untuk diakui.
"Sure Sir, there's nothing left here." Clo berujar penuh keyakinan. Untuk apalagi memperpanjang ikatan kesatuan di sini, di saat semua orang yang ia sayangi sudah pergi.
Tuan Campbell yang paham situasi Clo, meski berat, ia relakan salah satu anak kesayangannya keluar dari satuan. Percuma dipaksakan kalau hatinya tidak ada lagi di sini. "Be happy Clo, find your happiness." Tuan Campbell menemani Clo keluar dari ruangan.
"Terima kasih untuk semuanya, Sir." Clo mencoba memaksakan senyuman, setidaknya untuk laki-laki yang sudah seperti keluarganya sendiri.
Tuan Campbell menarik perempuan cerdas di hadapannya, memeluk Clo erat, "kalau kamu membutuhkan sesuatu jangan ragu untuk menghubungiku, Clo. Termasuk rencanamu di Korea." Laki-laki paruh baya ini tahu dari anak lelakinya, Luke, tentang rencana Clo yang sementara waktu akan pindah ke Korea. Entah rencana apa yang akan dijalankan oleh Clo setelah kepergian Bum, Tuan Campbell hanya bisa mendukung keputusan Clo dan menyertainya dengan nasihat agar perempuan ini selalu berhati-hati dalam setiap tindakannya.
Clo berpamitan kepada regunya yang tersisa. Hari ini Clo membiarkan tubuhnya dihujani pelukan dari anggota-anggota bawahan yang sebetulnya sangat sayang kepada Clo, meski Sergeant-nya selalu tegas saat memimpin mereka. Tetapi bagi mereka, Clo adalah pemimpin terbaik. Ketika ada waktu libur, Clo tidak segan untuk mengajak mereka makan bersama, bercanda melepas segala lelah serta penat dalam bertugas, dan mengajak mereka semua berkeliling mengitari kota.
Sekali lagi Clo memperhatikan markas satuannya. Berterimakasih selama 15 tahun sudah memberikan banyak pengalaman hidup. Baik dan buruk, pahit manis selama mengabdi untuk negara merupakan perjalanan panjang untuknya.
Clo mengumpulkan banyak tenaga untuk menyetir kembali ke rumahnya. Berkilo-kilometer selama 25 jam, hanya hampa lagi dan lagi yang ia rasakan di dalam mobil van. Dua bulan kepergian Bum hatinya masih kosong. Waktu akan menyembuhkan rasa kehilangan. Bagi Clo itu adalah omong kosong. Waktu adalah proses dalam melepaskan, merelakan, dan mengikhlaskan kepergian seseorang. Setiap helaan napasnya setelah Bum pergi, hatinya masih mengutuk kata rela. Kematian menyakitkan, menghajar habis setiap sel dan sendi tubuhnya.
Perjalanan melelahkan luar biasa tidak membuatnya mudah untuk beristirahat. Ia menatap lekat-lekat foto pernikahannya dengan Bum. Lelaki tampan dalam balutan seragam resminya tersenyum lebar merangkul pinggang Clo yang mengenakan dress panjang putih. Bukan kesedihan saat melihat foto berbingkai itu, tetapi amarah meledak keluar dari tubuhnya. Dengan teganya Clo membanting semua bingkai foto manis dirinya dengan Bum. Marah kepada keadaan, marah pada orang yang membuat hatinya membeku.
Clo jatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu, ia memutar musik sekencang-kencangnya. Tidak peduli dengan para tetangganya yang sudah berbaik hati menaikkan bendera setengah tiang untuk menghormati Bum selama seminggu penuh, setelah mendengar kabar kematian Bum. Mengirimi Clo makanan, bahan pokok, apa pun yang bisa tetangganya berikan selalu ada di teras rumah.
Tapi Clo mati rasa, air matanya habis. Ramah tamah Clo hilang, senyuman yang dulu selalu diedarkan kepada semua orang menguap tak berbekas. Luke baru sampai di rumah Clo, tak perlu mengetuk karena penghuni rumah juga tidak peduli siapa yang bertamu. Melihat rumah Clo berantakan seperti terkena badai katrina, Luke cuma bisa menggelengkan kepala. Ia hampiri Clo di sofa. Persis seperti keadaan rumahnya, kondisi mantan sersan itu tampak lusuh dan berantakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blood Shot 21+
FanfictionClo perempuan berbola mata langka dengan warna iris matanya, memutuskan untuk keluar dari satuan ARMY Amerika setelah 15 tahun mengabdi. Alasannya karena hatinya mati rasa dengan asas kemanusiaan setelah melihat pasangannya sendiri yang sedang bertu...
