Happy reading :)
***
Jantung Mahmud berdetak cepat manakala mobilnya memasuki gerbang pondok. Diparkirnya di bawah pohon mangga, lalu melangkah menuju ruang meeting terbatas yang bersebelahan dengan ruangan Gus Faqih. Doa Nabi Musa dilantunkannya berulang-ulang, padahal yang akan ditemui adalah keluarga gurunya, bukan Fir'aun.
Dia sendirian saja ke pondok, meski tidak demikian saat ke Pekalongannya. Astri memaksa ikut. Mahmud mengabulkan keinginan istrinya. Ibunya diajak serta untuk menemani Astri menunggu di rumah.
"Assalamualaikum." Satu suara menyapa gendang telinga Mahmud. Dia bahkan sudah harus bertemu Gus Faqih, padahal masuk ruangan saja belum.
"Waalaikumussalam, Gus." Dijabatnya tangan Gusnya dengan takdzim.
"Sehat, Mud?" Mahmud mengangguk.
"Sebelum ketemu yang lain, kita ke ruangan ana dulu. Ada muqadimah yang perlu ana sampaikan."
Mahmud mengikuti langkah Gus Faqih. Gusnya langsung menyalakan AC dan mempersilakannya duduk di sofa yang sama dengan beliau. Tak ada basa-basi selain pertanyaan Mahmud tentang kabar Gus Faqih dan keluarganya, juga keluarga besar Pak Kyainya.
Setelahnya Gus Faqih diam agak lama. Keadaan menjadi hening. Mahmud mulai salah tingkah, hingga akhirnya....
"Terbuat dari apa hati anta, Mud. Sungguh kesabaran anta memang luar biasa. Masya Allah. Kami masih belum habis pikir, bagaimana anta bisa mengambil dan menjalani keputusan yang berat ini. Ana saja jika harus bertemu permasalahan sepelik ini, mungkin tak seteguh kesabaran anta menerima ini semua, bahkan sedari awal anta pulang ke tanah air."
Mukadimah yang disampaikan membuat Mahmud merasa harus hati-hati. Gusnya ini pandai menggiring opini dan pemikiran, kalau tak hati-hati menjawab dan menyikapi, bisa salah bicara dia nanti. Mahmud berusaha fokus menghadapi.
"Ya, Gus. Alhamdulillah."
"Adakah yang ingin anta jelaskan sebelum kita bertemu dengan yang lainnya?"
"Tidak ada, Gus. Saya ke sini atas undangan abah, bukan untuk menjelaskan apapun kepada selain beliau atau tanpa kehadiran beliau. Dan saya hanya akan menjawab jika ada yang ditanyakan kepada saya. Selebihnya saya hanya mengikuti dhawuh abah saja."
"Baiklah jika demikian. Sungguh, kami semua terkejut ketika pekan lalu Azizah datang dan menangis kepada ibu. Ana dipanggil segera. Ada abah, ibu, dan juga Fais di sana. Azizah dengan terisak-isak menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Namamu tersebut pula di dalamnya.
"Kemudian kami meminta penjelasan dari Fais. Dia mengakui pernah melakukan perbuatan dosa di masa lalunya, perbuatan yang tidak semestinya, yang dilakukannya kepada seorang wanita. Dan wanita itu..., istri anta.
"Kurang lebih seperti itu yang hendak ana sampaikan. Yang lain menunggu kita di ruang sebelah. Ibu tidak ikut. Ada abah dan Fais di sana. Dan Azizah. Dia merasa sangat tertekan. Sudah sepekan ini hanya mau tidur dengan ibu, bicara dengan ibu, semua dengan ibu."
Mahmud sedih mendengarnya, tapi kondisi istrinya tak jauh berbeda, dan dia lebih peduli pada keadaan Astri, yang jelas-jelas adalah bagian dari hidupnya saat ini.
"Baiklah, Gus. Mungkin ada baiknya kita segera ke sana untuk menyelesaikan semuanya. Buat kami, saya dan keluarga saya, lebih cepat selesai adalah lebih baik."
Sama sekali tak ada kalimat Mahmud yang menyinggung mengenai apa yang sudah dijelaskan Gus Faqih. Menurut Mahmud, tak akan ada artinya dia bicara soal masa lalu Astri dan gus barunya di sini. Lebih baik sekalian saja di hadapan yang lainnya, jadi dia tidak perlu mengulang dua kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bin Fulanah
General FictionKepulangan Mahmud ke kampung halaman disambut masalah pelik. Astri, anak majikan ibunya, hamil di luar nikah. Laki-laki yang menghamilinya tak mau mengakui, apalagi menikahi. Astri memilih menggugurkan kandungannya. Di luar dugaan, ibunda Mahmud mem...
