Artitthaya sedang berdiri di ujung deck kapalnya sembari memandang ke hamparan laut yang luas. Ia merasakan hembusan angin yang dingin menerpa tubuhnya hingga menusuk ke tulang. Hembusan angin itu membuat Artit merinding di sekujur tubuh karena kedinginan.
Dari belakang, Sam Phraya membawakan sebuah mantel tebal yang terbuat dari bulu rubah untuk Artit. Sam memakaikan mantel tebal itu pada istrinya.
"Pakai ini. Kita sudah dekat dengan utara."
"Apa di utara selalu sedingin ini?", tanya Artit.
"Karena sekarang mendekati musim dingin. Kamu akan melihat salju untuk pertama kali. Kamu belum pernah lihat salju, kan?"
Artit menggelengkan kepalanya. Jelas ia belum pernah melihat salju, karena ia hanya pernah tinggal di wilayah selatan dan barat yang keduanya beriklim tropis, mana mungkin ia melihat salju. Sedangkan wilayah utara memiliki iklim sub-tropis, sehingga ketika musim dingin tiba, penduduk di wilayah utara dapat merasakan salju yang berjatuhan dari langit.
Ketika kapal yang ditumpangi Artit dan Sam menepi ke dermaga di salah satu kota yang berada di wilayah utara, disana mereka telah ditunggu oleh sekumpulan orang yang mengenakan seragam prajurit.
"Selamat datang, Adipati dan Permaisuri.", ucap seorang prajurit yang dari seragamnya terlihat memiliki pangkat cukup tinggi.
"Istri... Dia adalah Panglima Asnee, tangan kananku dan masih saudara sepupu dari ibuku.", ucap Sam pada Artit.
"Senang bertemu dengan anda, Panglima Asnee."
Artit menyapa pria berusia 40 tahunan yang tinggi menjulang dengan tubuh besar dan kekar. Tinggi badan Artit hanya sebahu pria itu. Meskipun terlihat cukup mengintimidasi, tetapi orang itu sangat sopan pada Artit. Ia bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya saat bicara pada Sam dan Artit untuk menunjukkan rasa hormatnya.
"Senang bertemu dengan anda, Permaisuri Artitthaya. Saya mohon cukup panggil saya paman, seperti bagaimana Adipati memanggil saya."
"Hahaha paman, bagaimana keadaan disini saat kutinggal hampir dua bulan?", tanya Sam pada Panglima Asnee.
"Seperti saat terakhir anda tinggal, Adipati. Syukurlah ketika anda pergi, tidak ada serangan di perbatasan. Peperangan yang belum lama terjadi cukup menghabiskan banyak korban dari pihak musuh."
Artitthaya melirik ke arah suaminya.
Apa mungkin luka yang baru sembuh di tubuh Sam karena peperangan itu?
"Ada apa istri?", tanya Sam.
"Tidak ada apa-apa, suami."
Sam tersenyum manis pada Artit.
Lalu seorang prajurit membawa dua kuda putih dan diberikan kepada Artit dan Sam.
"Disini kita tidak pakai kereta kuda. Kamu masih bisa menunggang kuda, kan?", ucap Sam Phraya.
Artit mengerucutkan bibirnya dan membuat ekspresi jutek yang malah menggemaskan.
"Kamu jangan nyepelein aku. Masa naik kuda aja gak bisa?"
Para prajurit menatap Artit dengan pandangan terkejut, karena Artit tiba-tiba berbicara tidak formal pada Adipati mereka. Dan Artit pun bingung ketika arah pandangan para prajurit tertuju pada dirinya.
Sam Phraya malah tertawa riang.
"Hahaha ada apa dengan kalian? Dia istriku. Biarkan dia mau bicara seperti apa padaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Throne
Historical Fiction[SingKit] ⚠️OMEGAVERSE (A/B/O), 21+⚠️ Pada suatu benua yang berada di belahan Bumi bagian utara, terdapat 6 pulau yang memiliki 6 kerajaan dengan wilayahnya masing-masing. Hingga seseorang berhasil menyatukan keenam kerajaan menjadi satu kerajaan ya...
