"IBU?!!", teriak Ramcha yang masih tak percaya akan melihat ibunya lagi setelah 4 tahun lamanya ibunya dinyatakan meninggal.
"Ibu benar ibu kan?", ucap Ramcha lagi.
"Iya ini ibu. Memangnya siapa lagi? Ibu tidak punya saudara kembar...", jawab Artitthaya.
Benar. Artitthaya. Bukankah ia sudah meninggal? Ternyata kematiannya adalah bagian dari rencana Artitthaya sejak awal. Ia memang memiliki penyakit peredaran darah yang tak lancar, tetapi tidak akan merenggut nyawanya jika tidak disengaja. Lagipula mana mungkin seorang bidan meninggalkan Artit yang masih mengalami perdarahan pasca melahirkan anak kedua? Dan juga seorang tabib yang sengaja datang terlambat. Semua itu adalah bagian dari rencana Artit. Mengapa ia melakukannya?
"IBUUUUU....!!!", seru Ramcha yang berlari ke arah ibunya sambil masih menarik tangan adiknya. Ramkham hanya ikut saja ketika ditarik oleh kakaknya. Tapi ia tidak mengetahui apa benar orang yang ada di hadapannya adalah ibunya.
Artitthaya memeluk kedua putranya dan memberikan kecupan di pucuk kepala kedua putranya.
"Ramkham. Ini ibu, nak. Maafkan ibu ya karena ibu harus meninggalkanmu. Semua ini ibu lakukan demi keluarga kita."
"Ibuuu...", Ramkham menangis dan Artit memeluk putranya itu erat sambil tak henti memberi kecupan pada putra yang ia rindukan.
"Bagaimana kabar ayah kalian tanpa ibu?", tanya Artit.
"Ayah... Menjadi gila, ibu. Ayah berubah. Terutama pada Ramkham. Ayah menyiksa Ramkham bertubi-tubi.", ucap Ramcha yang terdengar sangat marah pada Sam. "Tapi terakhir kali, ayah berubah lagi menjadi seperti dulu."
Artitthaya merasa sedikit kecewa. Ia mempercayai suaminya itu akan menjaga kedua anak mereka, tetapi ternyata Sam malah tenggelam dalam sisi gelap. Untung saja Sam tidak sepenuhnya dikuasai oleh sisi gelapnya.
"Maafkan ayahmu ya... Ayah pasti terkena banyak tekanan. Ramcha dan Ramkham gak benci sama ayah, kan?"
Kedua putranya itu menggeleng, "Gak ibu... Aku dan Ramkham malah kasihan pada ayah. Semenjak ibu pergi, ayah seperti kehilangan dirinya."
Artitthaya sudah menduganya. Sam memiliki sisi gelap karena tangannya bersimbah darah dari para korban yang telah ia bunuh di medan perang. Rasa amarah, benci, dendam dari dalam diri korban-korban yang telah dibunuhnya menghasilkan energi negatif. Energi itu yang melingkupi Sam dan menguasainya sehingga Sam dipenuhi oleh energi negatif. Hanya Artit yang selama ini menjadi pegangan Sam agar tidak terjerumus ke dalam pusaran energi negatif itu. Sehingga begitu kehilangan pegangan, Sam terjerumus ke dalam rasa kebencian dan dendam yang berasal dari energi negatif yang melingkupinya.
"Mengapa ibu hidup lagi tapi tidak kembali ke Utara malah berada disini? Seandainya ayah tahu ibu masih hidup..."
"Ibu ingin mematahkan kutuk."
"Kutuk apa ibu?"
"Cerita yang panjang. Nanti ibu masih harus menceritakannya pada ayahmu. Yang penting kalian tahu ibu masih ada disini untuk kalian.", jawab Artit.
Artitthaya menggendong putra keduanya. "Maafkan ibu ya, sejak lahir kamu tidak pernah ibu peluk seperti ini. Anak ibu...", ucap Artit seraya mengusap-usapkan wajahnya di wajah anaknya hingga membuatnya tertawa.
"Ramcha dan Ramkham. Ibu harus kembali ke Utara. Kalian sudah aman berada disini. Padahal ibu baru saja ingin menjemput kalian dari Utara. Ternyata kalian malah lebih dahulu disini. Kalian belajar yang benar. Nanti ibu akan berkirim surat."
"Ibu akan kembali pada ayah?", tanya Ramkham.
"Iya. Kasihan ayahmu sendirian. Pasti ia sangat sedih."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Throne
Ficción histórica[SingKit] ⚠️OMEGAVERSE (A/B/O), 21+⚠️ Pada suatu benua yang berada di belahan Bumi bagian utara, terdapat 6 pulau yang memiliki 6 kerajaan dengan wilayahnya masing-masing. Hingga seseorang berhasil menyatukan keenam kerajaan menjadi satu kerajaan ya...
