⚠️ Konten Dewasa ⚠️
21+
Harap bijak dalam membaca.
Artitthaya merasa beban pikirannya telah terangkat seluruhnya. Hari itu, ia dan Sam menghabiskan waktu seharian penuh hanya berdua. Sam mengajak Artit berjalan-jalan di kota pelabuhan yang cukup jauh dari istana. Sam berusaha untuk menghibur Artit yang nampaknya jenuh hanya berdiam diri di dalam istana dan malah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.
Sam dan Artit menyamar menjadi rakyat biasa dengan mengenakan pakaian seperti kalangan rakyat kelas atas pada umumnya. Jika mereka sedang berada di ibukota pasti penyamaran mereka akan sia-sia karena hampir seluruh rakyat ibukota sudah mengenali wajah sang Adipati dan Permaisuri. Tapi kali itu mereka sedang berada di kota lain dekat pelabuhan, tidak ada yang mengenali identitas asli mereka.
Memang di Kerajaan Utara sangat berbeda dengan di Kerajaan lainnya. Di Utara, rakyat biasa pun dapat berbincang dengan Adipati. Dapat dikatakan bahwa Sam adalah pemimpin yang merakyat. Artitthaya berpikir mungkin hal itu lah yang membuat rakyat Kerajaan Utara sangat mencintai keluarga Phraya yang telah memimpin di Utara secara turun-temurun selama ratusan tahun.
"Soup tanpa isian, hanya kuahnya saja. Selamat menikmati, Tuan.", ucap seorang pemilik kedai makanan yang kerap disambangi oleh Sam dan Artit jika sedang mengunjungi kota tersebut.
Sam langsung menyantap hidangan yang telah tersedia di hadapannya.
"Soup hanya kuahnya saja tanpa isi. Aku ingin bilang orang aneh, tapi itu kamu, Sam.", ucap Artit.
"Kamu kan tahu. Aku suka kuah rebusan udang, tapi aku tidak suka udangnya."
"Sudah tidak aneh lagi karena aku sudah terbiasa."
Sam terkekeh.
Setelah keduanya selesai makan, Sam membayar makanan dan sekaligus memesan sebuah kamar. Tempat itu adalah kedai makan sekaligus penginapan bagi para pendatang yang baru saja sampai di pelabuhan. Sehingga, penginapan itu dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai kerajaan, kebanyakan adalah pedagang.
"Kita gak pulang?", tanya Artit.
"Kalau pulang sekarang bisa sampai sana larut malam. Lagipula kasian kuda yang kita bawa juga butuh istirahat. Kamu gapapa kan menginap disini satu malam?"
Artitthaya mengangguk.
Pemilik penginapan itu memberikan sebuah kunci kamar, "Ini kuncinya. Dan ini kembaliannya."
"Ambil saja kembaliannya untuk pakan kuda.", jawab Sam.
"Tapi harga kamar sudah termasuk dengan pakan kuda, Tuan."
"Kalau begitu untukmu saja."
"Terima kasih, Tuan."
Setelah mandi bersama, kini Sam Phraya tengah menyisir rambut panjang Artit yang tidak diikat dan sudah tergerai. Panjangnya hampir mencapai ke pinggang.
Sam menoleh ke arah cermin dan melihat wajah Artitthaya yang sedang senyum-senyum.
"Cantik.", celetuk Sam sembari masih menyisir rambut halus yang sudah tidak perlu disisir lagi.
Artitthaya tersipu malu setiap dipuji, bukan hanya wajahnya saja yang memerah tetapi telinganya juga ikut memerah. Kemudian mereka mendengar suara ribut dari kamar sebelah. Terdengar suara seorang pria dan wanita yang tertawa-tawa, lalu berubah menjadi suara yang tahu sendiri apa. Terlebih lagi suara wanita itu sangat nyaring.
"Dia benar-benar menikmatinya atau hanya berpura-pura?", ujar Artit yang mulai merasa kurang nyaman mendengar suara wanita nyaring itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Throne
Fiksi Sejarah[SingKit] ⚠️OMEGAVERSE (A/B/O), 21+⚠️ Pada suatu benua yang berada di belahan Bumi bagian utara, terdapat 6 pulau yang memiliki 6 kerajaan dengan wilayahnya masing-masing. Hingga seseorang berhasil menyatukan keenam kerajaan menjadi satu kerajaan ya...
