Selamat Membaca^-^
***
Baru saja Tiffani memejamkan matanya. Pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang, dengan perasaan kesal Tiffani menyingkirkan selimut lalu beranjak dari ranjangnya.
"Kenapa?" tanya Tiffani.
Setelah ia membuka pintu dan ternyata Tanisha yang sedang di depan. Tiffani langsung bertanya apa tujuan ibunya datang ke kamar. Padahal ia sudah memberitau Larisa untuk mengatakan kepada Tanisha bahwa ia sedang tidak ingin makan malam bersama.
"Turun lah, semua orang sedang menunggumu!" ujar Tanisha dengan wajah datar.
"Perutku masih kenyang. Aku ingin tidur lebih awal karena besok harus pergi ke Bandung," ujar Tiffani.
"Apakah pekerjaanmu lebih penting daripada keluarga?"
"Iya, aku akan segera ke turun. Terimakasih telah memanggilku."
Setelah mendengar jawaban dari Tiffani, Tanisha langsung pergi begitu saja tidak melihat raut wajah putri sulungnya yang berubah kesal. Tiffani adalah tipe orang yang tidak suka waktu tidurnya terganggu, siapapu itu walaupun Tanisha yang mengganggunya.
Dengan cepat Tiffani mengambil sandal yang biasa ia kenakan saat di rumah dan langsung menuruni tangga. Ia melihat kedua orang tuanya dan adiknya sedang membicarakan sesuatu.
"Maafkan aku karena telah membuat kalian menunggu," ujar Tiffani lalu duduk di samping Larisa yang langsung menunduk.
Larisa merasa bersalah kepada Tiffani, karena tidak bisa meyakinkan Tanisha bahwa Tiffani ingin tidur lebih awal seperti apa yang dikatakan kakaknya itu. Namun, Larisa juga tidak bisa mencegah Tanisha untuk membangunkan kakaknya.
"Sepertinya dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada berkumpul dengan keluarga. Pantas saja selalu menyibukan dirinya sendiri," ujar Tanisha.
"Bukan begitu, Ma. Aku hanya ingin segera menyelesaikan masalah di Butikku yang berada di Bandung," jelas Tiffani.
Genta menatap Tiffani dan Tanisha bergantian. Kedua perempuan yang sangat ia cintai selalu saja bertengkar di meja makan.
"Daripada kalian bertengkar, lebih baik kita makan," ujar Genta.
Karena tidak ingin membuat suaminya marah. Tanisha langsung menyiapkan lauk pauk di piring Genta dan Larisa. Tiffani yang melihat itu sedikit iri karena terlihat sangat jelas bahwa Tanisha tidak menyukai dirinya.
Dengan emosi yang sedang ditahan mati-matian supaya tidak meledak, Tiffani mengambil lauk pauk yang ia inginkan. Tiffani berusaha menunjukan wajah biasa-biasa saja seolah tidak melihat kejadian tadi.
"Jam berapa kamu akan pergi ke Bandung, Tiffa?" tanya Genta.
"Pagi, Pa. Aku izin disana untuk beberapa hari," ujar Tiffani.
"Semoga masalah di Butikmu segera selesai. Papa sangat percaya kamu bisa mengatasinya," ujar Genta sambil tersenyum.
Melihat senyuman itu hati Tiffani langsung merasa damai. Genta selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Genta adalah papa yang baik untuk Tiffani dan Larisa. Ia tidak pernah pilih kasih kepada kedua putrinya dan selalu menanyakan perkembangan Butik Tiffani.
"Kamu pergi ke Bandung dengan siapa?" tanya Genta.
"Sendiri, Pa."
"Jika saja kamu sudah menikah, kamu tidak perlu bekerja sampai larut malam, tidak pergi sendirian tanpa seorang suami. Sebenarnya kamu membutuhkan sosok laki-laki yang bagaimana?" sahut Tanisha.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNG DESIGNER
Teen Fiction[DILARANG PLAGIAT] Tiffani Prasasti, perempuan berusia 23 tahun yang berprofesi sebagai Designer. Di usianya yang sekarang, Tiffani selalu ditagih pertanyaan orang tuanya 'Kapan menikah?' Bagaimana bisa menikah kalau dirinya saja belum menemukan la...
