Happy Reading!
***
Tanpa memperdulikan ancaman Satrio yang membuatnya ingin tertawa karena tidak masuk akal jika mengingatnya. Tiffani lebih memilih belanja dan packing untuk pergi ke Lombok. Satrio tidak bisa mengancamnya dengan alasan seperti itu, karena Tiffani sudah sangat hafal dengan cara bermain seorang laki-laki yang sudah berumur jika mendekatinya.
Orang yang lebih muda dari Satrio saja banyak yang di tolak Tiffani karena perempuan itu tidak ingin menyakiti hati seseorang. Menjalin hubungan tanpa di dasari rasa cinta itu sangat menyusahkan bagi Tiffani.
Akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu sudah tiba. Sekarang Tiffani dan temannya sedang duduk bersantai di ruang tunggu setelah chek-in. Tiffani sudah izin kepada orang tuanya dan meminta do'a supaya perjalananya lancar dan Tiffani akan kembali ke Jakarta dengan selamat.
Hal itu sudah pasti akan Tiffani lakukan ketika ia ingin berpergian jauh. Saat ia sedang menyimak pembicaraan Jessica dengan managernya ketika membahas jadwal pemotretan, tiba-tiba ponselnya berdering.
'Hallo Bu Tiffani, maafkan saya karena telah mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin memberitau jika Pak Satrio saat ini sedang berada di Butik dan ingin berbicara dengan anda,' ujar Rena.
Tiffani memutar bola matanya. "Bilang saja saya sedang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Jika dia mengeyel untuk masuk ke ruangan saya, tolong usir saja."
'Baik Bu Tiffani.'
"Oke saya matikan," ujar Tiffani saat ia dan teman-temannya harus sudah berada di pesawat sekarang juga karena sebentar lagi akan take off.
Setelah itu Tiffani langsung mematikan ponselnya. Kelima orang itu masing-masing membawa koper yang lumayan besar. Hanya berlima tanpa membawa asisten yang biasanya mengintili mereka kemana-mana. Tiffani sih tidak mempunyai asisten, toh buat apa.
"Wajahmu sungguh murung, ada apa sebenarnya Tiffani?" tanya Belle yang berada di sampingnya.
"Nanti saja akan aku ceritakan pada kalian semua."
"Baiklah."
* * *
Tiffani dan teman-temannya sudah sampai di Lombok dan merebahkan diri mereka di Villa milik Naomi. Perjalanan mereka dari Jakarta menuju Lombok memakan waktu kurang lebih 2 jam. Setelah sampai di kota yang biasa di juluki pulau seribu mesjid Tiffani langsung mengucap rasa syukur di dalam hatinya karena telah di beri keselamatan.
"Aku masih mengingat wajahmu yang murung beberapa jam yang lalu, ada apa Tiffa?" tanya Belle.
Virly mendekat ke arah Tiffani. "Apakah kamu tidak menikmati jalan-jalan ini?" tanya Virly.
Dahi Tiffani mengerut heran. Tentu saja ia menikmati perjalanan dengan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.
"Bukan begitu, aku sangat menikmati jalan-jalan ini. Hanya saja mood ku langsung turun saat mendengar nama seseorang yang diberitau oleh Rena, karyawanku di Butik," ujar Tiffani.
"Siapa nama orang itu?" tanya Jessica penasaran.
"Satrio," jawab Tiffani singkat.
Belle dan yang lainnya langsung mengangguk sambil tersenyum menggoda. Namun, pemandangan itu sangat menyebalkan bagi Tiffani karena mereka belum mengetahui cerita Tiffani yang sebenarnya. Pasti ke empatnya mengira Satrio adalah kekasih Tiffani.
"Laki-laki rupanya," ujar Naomi.
"Apakah itu nama pacarmu Tiffani?" tanya Belle.
Tiffani berdecak. "Bukan! Itu adalah nama orang yang akhir-akhir ini sangat gencar mengganggu ku. Sampai dia mengancam Butik ku akan sepi, menyebalkan bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNG DESIGNER
Teen Fiction[DILARANG PLAGIAT] Tiffani Prasasti, perempuan berusia 23 tahun yang berprofesi sebagai Designer. Di usianya yang sekarang, Tiffani selalu ditagih pertanyaan orang tuanya 'Kapan menikah?' Bagaimana bisa menikah kalau dirinya saja belum menemukan la...
