Happy Reading!
****
"Ngomong-ngomong kamu sudah makan, Jes?" tanya Tiffani sedikit lirih di telinga Jessica.
Jessica mengangguk. "Sudah tadi. Kamu sudah, 'kan?"
Walaupun Jessica berada di tengah-tengah orang yang sedang berpacaran seperti ini. Entah mengapa Jessica lebih merasa nyaman karena Tiffani selalu saja mengajaknya berbicara dan terkadang memainkan kuku-kuku panjang milik Jessica yang baru saja di kuteki. Tiffani juga sudah berjanji kepada dirinya sendiri dan Belle tidak akan membuat Jessica tidak nyama jika sedang bersamanya.
"Sudah," jawab Tiffani.
"Bagaimana dengan perasaanmu sekarang?" tanya Jessica sambil berbisik di telinga Tiffani.
"Apa maksudmu?" tanya Tiffani.
"Kalian membisikan apa?" tanya Feri.
Tiffani dan Jessica langsung menoleh ke arah Feri. Keduanya baru menyadari jika perbuatan mereka tidak sopan. Seharusnya tidak berbisik-bisik di depan orang banyak seperti ini apalagi mereka sedang berkumpul. Riza yang di sebelah Tiffani hanya diam padahal ia mengetahui percakapan Jessica dan Tiffani karena sedikit keras.
"Tidak, aku hanya menanyakan sesuatu kepada Jessica," ujar Tiffani.
"Ya benar sekali. Kami berdua tidak menggunjing kalian, percaya lah!" ujar Jessica.
Calista mengangguk. "Iya sudah kita ganti topik pembicaraan nya saja."
"Baiklah, apakah kalian sudah tidak berteman dengan Naomi? Aku tidak pernah melihat dia," ujar Feri.
"Naomi sedang sibuk di kantornya, tapi kita masih berteman," sahut Jessica.
Riza menyenderkan kepalanya di sofa. Menatap rambut Tiffani yang bergelombang indah sedang tergerai. Tiffani memang sangat jarang mengikat rambutnya entah karena alasan apa yang membuat perempuan itu tidak suka rambutnya di ikat.
"Kenapa?" tanya Tiffani.
"Tidak," jawab Riza singkat.
"Sepertinya kamu kelelahan," ujar Tiffani ikut menggenggam tangan Riza.
Sebenarnya Jessica melihat. Namun, perempuan itu hanya diam dan tidak ingin menggoda Tiffani kali ini. Jessica sangat paham dengan perasaan bahagia sahabatnya karena ia sangat tahu Tiffani masih menyimpan rasa kepada Riza dan sebaliknya laki-laki itu terhadap Tiffani. Jessica adalah saksi dimana Tiffani sangat takut jika Riza marah kepadanya bahkan perempuan itu sampai menangis.
Tiffani menatap tangan besar Riza yang menggenggam tangan miliknya. Laki-laki itu masih menyenderkan kepalanya ke sofa dan menyimak pembicaraan Calista dan Feri yang membahas pernikahan mereka berdua.
"Bagaimana jika kalian yang akan menjadi bridesmaid?" tanya Feri.
Riza menggeleng. "Aku jelas akan menolak."
"Tidak bisakah kamu menyenangkan sahabatmu untuk satu hari saja?" tanya Feri sedikit kesal.
"Tidak," ujar Riza.
"Memangnya kalian berdua masih kekurangan bridesmaid?" tanya Jessica.
"Sebenarnya tidak, tetapi aku sangat senang jika kalian mau menjadi bridesmaid," ujar Calista.
Jessica menatap Tiffani untuk membantu dirinya. Karena Tiffani paham jika Jessica tidak enak mengatakan hal itu kepada Calista.
"Maafkan kami berdua, Calista. Aku dan Jessica tidak menerima tawaranmu untuk menjadi bridesmaid," ujar Tiffani.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNG DESIGNER
Teen Fiction[DILARANG PLAGIAT] Tiffani Prasasti, perempuan berusia 23 tahun yang berprofesi sebagai Designer. Di usianya yang sekarang, Tiffani selalu ditagih pertanyaan orang tuanya 'Kapan menikah?' Bagaimana bisa menikah kalau dirinya saja belum menemukan la...
