[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Suasana di dalam masjid cukup ricuh selama menunggu pengisi kajian di malam ini datang. Biasanya, Ustaz yang akan mengisi kajian di malam itu menjadi imam salat isya juga. Namun, untuk malam ini justru berbeda. Si pengisi kajian mendadak kedatangan tamu sehingga membuat ia tidak bisa menjadi imam salat isya, membuat para santri harus melangsungkan salat isya bersama Ustaz yang lain.
Setelah salat isya, Ustaz itu pun pergi sebab tiba-tiba mendapat kabar jika terdapat beberapa santri putra yang kabur dari pesantren, membuat para santri yang berada di dalam masjid tidak memiliki pengawasan sehingga bebas melakukan apapun asal tidak ikut kabur keluar.
Sudah empat puluh menit berlalu selama menunggu lelaki itu datang, dan suasana di dalam masjid ini terasa memusingkan untuk perempuan yang saat ini menyenderkan punggungnya di barisan paling belakang dekat pintu masuk. Pembatas shaf yang dijadikan batasan antara santri putra dan putri itu justru menjadi tempat pertukaran surat yang Riana sendiri tidak tahu isinya. Untuk apa repot-repot surat-menyurat di saat bisa berbicara langsung, pikir Riana.
Karet yang biasanya dipakai untuk bungkus nasi juga dilayangkan ke sana-kemari, mengenai kulit tubuh sehingga membuat si korban sekaligus pelaku itu melenguh, sebelum membalasnya lagi. Selain itu, tidak sedikit kelompok pertemanan yang mengobrol riang, membahas tentang kejadian yang menimpanya atau membahas tentang santri putra yang kini menjadi taksirannya.
Banyak sekali kejadian yang sedang berlangsung sekarang, membuat Riana bingung harus memperhatikan yang mana. Jadi, terkadang, matanya memandang seorang santri putri yang malu-malu mengirim surat kepada santri putra di sebelahnya yang sudah dibatasi pembatas, tetapi telinganya sembari mendengar kedua perempuan di sampingnya yang sedang membahas kejadian memalukan yang menimpa perempuan itu, membuat Riana terkadang menahan tawa semaksimal mungkin.
Namun, ketika perbincangan kedua perempuan di sampingnya selesai, kantuk kini menyerang Riana sebab tidak ada lagi hal yang membuatnya ingin tertawa. Ia menguap beberapa kali, merasa kesal setelahnya. "Ini mana, sih, orangnya! Lama banget, gue udah ngantuk!"
"Tunggu aja dulu, Na," sahut Nadia yang berada di depan perempuan itu, "Kalau nguap itu ditutup."
"Ditutup? Gimana caranya anjir, masa nguap harus ditutup rapet aja nih mulut, ya, gak bisa lah!"
"Maksud aku itu ditahan dulu, kalau nggak tahan, ya, ditutup pake tangan," jelas Nadia.
"Betul itu!" celetuk Via yang berada di samping Nadia.
Baru saja Riana akan membalas ucapan kedua temannya itu, tetapi suara bisik-bisik dan redanya keriuhan di dalam masjid membuat ia menutup mulutnya. Ia menoleh mengikuti pandangan santri lain, ke arah lelaki dengan jubah putih dan peci hitamnya yang sedang berjalan di tengah-tengah kerumunan, melewati para santri yang langsung menundukkan pandangannya.
Lelaki itu berdiri di belakang mimbar dengan menghadap kepada para santri yang sedang berbaris dengan rapi. Matanya memandang ke seluruh, tidak membiarkan satu santri pun lewat dari pandangannya.
Riana memicingkan matanya tatkala ia mengenal lelaki itu. Ternyata benar, "Gus Faiz" yang mereka maksud adalah Faiz yang ia temui sore tadi. Namun, mengapa mereka menyebutnya dengan sebutan "Gus Faiz"? Apakah nama panjangnya ada Gusnya? Jika benar, mengapa harus ribet-ribet memanggil semuanya, kenapa tidak langsung Faiz saja?
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
