02

14.1K 381 0
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Riana dan Kifa terus saja berjalan, sesekali menoleh ke kanan-kiri. Namun, di tengah-tengah mereka berjalan, tiba-tiba saja dua orang lelaki menarik Riana ke samping—ke sebuah kamar yang awalnya tertutup—di saat Riana sedang berjalan dengan santainya.

Riana terkejut sebab tubuhnya diseret masuk begitu saja. Ia langsung berteriak memanggil nama Kifa beberapa kali, tetapi perempuan itu nampak tak menoleh sama sekali, seakan-akan tuli dan tidak menyadari bahwa suara langkah kaki temannya mulai menghilang.

Riana memberontak ketika salah satu dari mereka menutupi mulutnya dengan satu tangannya, sedangkan satu tangan yang lain memegang tangan Riana dengan kuat agar tidak terlepas.

Lelaki berambut pirang yang memegang tangan serta menutup mulut Riana tadi, tiba-tiba mendorong tubuh Riana ke ranjang yang berada di kamar itu.

"Kalian siapa?!" tanya Riana ketakutan. Ia berdiri, memundurkan langkahnya saat kedua lelaki itu mendekatinya dengan langkah pelan.

"Eitss ... mau ke mana, Cantik?" tanya lelaki berambut hitam tebal—teman lelaki berambut pirang.

Tangan kanan si lelaki berambut hitam meraih tangan kiri Riana yang ingin berlari ke arah pintu, untung saja temannya dengan cepat mengunci pintu tersebut.

"Lepasin!" Riana mulai menangis, yang hanya diabaikan oleh mereka.

Si lelaki berambut hitam mendorong Riana ke sudut ruangan, kemudian mengurungnya dengan kedua tangannya yang berada di sisi kanan-kiri tubuh Riana.

Si Lelaki berambut pirang mendekat ke arah mereka, berdiri di samping temannya. Ia menoleh ke arah temannya. "Langsung aja, nih?"

"Bibirnya menggoda. Gue mau nyobain dulu," jawab si lelaki berambut hitam tanpa menoleh.

"Jangan...." Riana memohon, tetapi tidak dipedulikan.

"Ya udah, tapi nanti gantian!" ujar lelaki berambut pirang.

"Tenang aja. Nanti lo habis gue." Si lelaki berambut hitam mendekati bibir Riana, memiringkan sedikit kepalanya.

Riana memegang dada lelaki di depannya, berusaha mendorong tubuh lelaki tersebut. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukannya. "J-jangan...," mohon Riana kembali.

"TOLONG!!" teriak Riana berulang kali. Berharap ada yang mendengarnya, lalu menolongnya dari kedua lelaki berengsek itu.

"Diem! Gak usah teriak-teriak karena nggak bakal ada yang denger!" sahut si lelaki berambut pirang.

Si lelaki berambut hitam kembali mendekatkan bibirnya setelah tertunda beberapa detik lalu, sedangkan Riana memejamkan kedua matanya sembari menoleh ke samping serta hatinya yang tidak pernah berhenti berdoa agar ada orang yang menolongnya.

Sebelum bibir keduanya bersatu, bantingan pintu terdengar keras sekali, membuat pintu yang awalnya terkunci kini terbuka lebar dengan silinder kunci yang patah.

Kedua orang lelaki itu langsung menoleh dengan penuh amarah ke arah lelaki yang baru saja mendobrak pintu tanpa izin, sedangkan Riana langsung membuka kedua matanya sembari bernapas lega walaupun sisa-sisa rasa tegang dan takut masih bersemayam dalam dirinya.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang