[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Biasanya, di bulan ini matahari selalu bersemangat untuk bersinar di pagi hari. Namun, untuk hari ini berbeda. Tidak ada sinar matahari yang menyoroti bumi, digantikan oleh langit mendung yang sepertinya akan menurunkan hujan.
Jika saja Riana masih bersekolah di sekolah yang dulu, sudah dipastikan ia tidak akan masuk dan lebih memilih tidur hingga siang hari. Namun, sekarang berbeda. Sekolahnya masih berada di dalam wilayah pesantren dan tidak perlu menaiki kendaraan untuk sampai di sana. Ia tidak bisa lagi absen dengan alasan hujan, apalagi sekarang ia bukan lagi tidur di asrama, melainkan tidur bersama lelaki yang tidak akan membiarkannya absen dengan alasan seperti itu.
Kakinya melangkah dengan lesu menuju kamar asramanya—menemui teman-temannya yang kini sedang memakai sepatu di depan kamar—sebab masih ingin sekali tidur seraya berselimut. Langkahnya berhenti ketika sudah sampai di hadapan mereka. Ia segera menyadari jika teman lemotnya itu tidak ada bersama mereka. "Si Via di mana?"
Nadia membersihkan debu yang berada di atas sepatunya. "Masuk lagi tadi ke dalem, bukunya ada yang ketinggalan," sahutnya.
Tika telah lebih dulu menyelesaikan ikat tali sepatunya. Ia berdiri sembari mengupas bungkus permen kaki, sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
Tidak lama, Siska juga selesai. Ia berdiri, membersihkan bokongnya yang terasa kotor. "Via, buruan! Keburu hujan!"
"SEBENTAR!" Via menyahut dari dalam.
Dewi berdiri di dekat Riana, membenarkan tali ranselnya. "Via, kalau dalam lima detik belum keluar, kami tinggal ya!" serunya.
Via segera keluar dengan berlari kecil. "Iss, sabar, atuh!" gerutunya, sebelum memakai sepatu dengan ukuran yang paling kecil dari ukuran sepatu teman-temannya.
"Udah nggak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Tika memastikan.
Via menggeleng.
Mereka akhirnya berjalan bersama menuju sekolah. Ketika hujan mulai turun, kaki mereka segera berlari dengan tangan yang sigap mengangkat sedikit rok panjangnya ke atas, memperlihatkan celana panjang yang menutupi kulit kaki.
Tangga pertama menuju lantai dua segera mereka naiki tatkala hujan mulai turun dengan deras. Nadia, Tika, dan Siska segera berpamitan sebab sudah sampai di kelas IPA, sedangkan Riana, Via, dan Dewi masih harus berjalan ke gedung satunya untuk sampai di kelas mereka.
"Aku duluan ya!" Dewi segera memasuki kelas IPS 1—kelas yang sama dengan Alifa.
Riana dan Via hanya mengangguk, kemudian melanjutkan langkah untuk memasuki kelas yang bersebelahan dengan kelas Dewi.
Kening Riana mengerut heran tatkala menemukan si perempuan kurang ajar yang menabraknya kemarin, kini berada di dalam kelasnya. Bukan itu yang membuat Riana marah kali ini, tetapi kursinya saat ini sudah ditempati oleh perempuan itu dengan tas berwarna maroon yang disandarkan ke kursi. Langkah kaki Riana sengaja dicepatkan untuk sampai di tempat duduknya. "Ngapain lo di sini?!" tanya Riana tidak santai.
Perempuan itu mendongak ke arah Riana. "Lah, terserah gue, dong. Harusnya gue yang tanya kenapa lo ada di sini?"
"Ini kelas gue, dan kursi yang lagi lo dudukin sekarang itu tempat gue. Jadi, lo minggir sekarang! Gue mau duduk!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Fiksi RemajaSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
