[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Pengumuman tentang sekolah yang dipulangkan lebih awal berhasil menimbulkan sorakan senang dari para murid. Para guru akan mengadakan rapat penting sehingga membiarkan para murid dipulangkan lebih awal dari biasanya dibandingkan harus membiarkan semua kelas menjadi ricuh sebab tidak ada guru yang mengajar.
"Biasanya kalau ada rapat kita dipulanginnya setengah jam atau satu jam lebih awal dari jam pulang, ini tumben banget dua jam sebelum jam pulang udah dipulangin lebih dulu." Dewi berujar sembari berjalan santai bersama teman-temannya menuju asrama.
Via membuka kemasan es krim cokelat yang dibeli di kantin sekolah dua menit lalu. "Mungkin kali ini rapatnya lebih penting dari biasanya."
Dewi menoleh sekilas. "Lebih penting dari biasanya?" ulangnya, "Kira-kira ngebahas apa sampe murid dipulanginnya awal banget?"
"Ada murid yang hamil kali," celetuk Riana sembari membenarkan lengan seragam sekolahnya.
"Huss! Ngomongnya, Na!" tegur Nadia.
Alis Riana terangkat sebelah. "Kenapa, gue salah? Di sekolah gue dulu kalau murid dipulangin lebih awal dengan alasan rapat padahal biasanya nggak pernah dipulangin walaupun ada rapat tuh karena biasanya ada yang ketangkep hamil. Sengaja muridnya dipulangin karena para guru mau nyamperin yang hamil ke rumahnya, terus biar murid di sekolah nggak heboh juga."
Tika menyahut, "Dulu waktu aku pas SMP di Jakarta juga murid tiba-tiba dipulangin lebih awal, eh besoknya gempar karena ada yang hamil."
"Tapi di sini, kan, pesantren, nggak mungkin kayak gitu kali?" tanya Siska.
"Nggak menutup kemungkinan, sih," balas Riana, "Lo emangnya nggak pernah liat di sosial media ada anak santri yang ketahuan hamil, dan ternyata pas ngelakuin itunya di pesantren?"
"Eh iya pernah lewat beritanya di fyp, gila, sih," sahut Dewi.
"Semoga aja di kita nggak ada," ujar Nadia, "Udah jangan bahas itu lagi, bahas yang lain aja."
Dewi mengangguk. "Kita tiga bulan lagi lulus." Ia mengubah topik.
Siska menendang bebatuan kecil yang berada di depannya. "Gak kerasa, ya?" ujarnya pelan. Ia menatap teman-temannya. "Nanti kita bakal pisah, dong?"
Nadia mengangguk. "Kita bakal pisah buat ngelanjutin kehidupan kita masing-masing."
"Kalau aku sama Nadia, kan, bakal ngabdi di sini dulu satu tahun, dan Riana juga bakal tetep tinggal di sini, berarti kita bertiga gak bakal pisah dulu," ujar Via.
"Walaupun kita bertiga masih sama-sama, tapi suasananya pasti bakal beda sama sekarang. Kita nggak bisa berenam lagi," jawab Nadia.
Riana hanya diam mendengarkan, bingung mau mengatakan apa. Ia tidak tahu setelah lulus akan tetap tinggal di sini atau kembali ke Jakarta bersama orang tuanya. Namun, saat ini posisinya sudah berbeda. Ia sudah menjadi seorang istri, tidak bisa mengambil keputusan sesuka hati.
Via menatap Tika, Siska, dan Dewi. "Kalian gak ada niatan mau ngabdi di sini dulu?" tanyanya sedih. Ia tidak siap berpisah dari mereka.
Tika menggeleng. "Aku nggak bisa. Aku harus ngelanjutin kuliah di Jakarta sambil jagain Nenek. Kasian Nenek kalau aku kelamaan di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
