[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Para penghuni Kamar Az-Zahra tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Di ujung kamar, Nadia sibuk murajaah, Via sibuk mengunyah permen karetnya sembari memainkan permainan di ponselnya—anak kecil di raga remaja—Tika sibuk berkutat dengan buku UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) di meja belajar, dan Dewi serta Siska sibuk memakan gorengan sembari lesehan.
Kegiatan mereka Riana amati dari jendela kamar secara diam-diam, sebelum memilih masuk ke dalam kamar tersebut.
Gerakan pintu kamar berhasil mengalihkan atensi semua orang yang berada di sana.
"RIANAAA!!" Via tiba-tiba berlari ke arah Riana, kemudian memeluknya. "Kangen banget sama kamu!"
Riana menjauhkan Via dari tubuhnya. "Jijik!" ketusnya.
Via cemberut, lalu kembali memeluk Riana. "Pokoknya aku gak bakal lepasin sebelum kamu bales pelukan aku!"
"Apa, sih, jijik!" Riana ingin kembali menjauhkan Via dari tubuhnya, tetapi perempuan itu sudah lebih dulu menambahkan kekuatannya. "Lo kecil-kecil tenaganya gede, ya."
Via mengangguk. "Bales dulu pelukan aku baru nanti aku lepasin."
Riana menolak mentah-mentah, "Ogah! Ngapain, sih, lo meluk-meluk gini, geli tau, gak?!"
Via semakin mengeratkan pelukannya. "Emangnya yang boleh meluk kamu cuman Gus Faiz doang? Emang aku sama yang lain gak boleh? Kan, kami juga sahabat kamu, masa meluk doang gak boleh."
Semua orang yang berada di kamar langsung tertawa mendengar ucapan Via, kecuali Riana tentunya. "Tau, tuh, emang yang boleh meluk kamu cuman Gus Faiz doang?" timpal Siska.
"Kan, kami juga mau meluk Riana yang paling kami cinta." Tika tiba-tiba berjalan ke arah Riana, kemudian ikut memeluk perempuan itu.
"Iya, kami juga mau," sahut Dewi. Mereka semua langsung memeluk Riana.
"Gila." Riana benar-benar heran, ada apa dengan teman-temannya?
"Kalian kenapa, sih? Kemasukan setan pesantren?"
Tika menggeleng seraya melepaskan pelukan yang disusul oleh yang lainnya. "Nggak mungkin, sih, soalnya kami setannya."
"Kamu doang kali, aku mah manusia, bukan setan," sahut Siska.
"Iya, aku juga manusia," timpal Nadia.
"Aku juga," ucap Via.
"Apa cuman aku yang bidadari di sini?" ucapan Dewi sontak membuat mereka berlagak ingin muntah.
"Baru kali ini ngedenger ucapan yang paling menjijikkan selama aku hidup," sahut Tika yang langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Dewi.
"Eh, Na, aku mau ngomong," ucap Dewi.
"Ngomong tinggal ngomong," balas Riana acuh tak acuh.
"Ini penting banget! Ya, kan, Sis?"
Siska diam, menatap Dewi bingung. "Hah?"
"Yang di Indomaret, dua hari yang lalu."
Siska langsung mengangguk ketika sudah mengingatnya. "Iya! Penting banget!" balasnya heboh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Ficção AdolescenteSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
