12

12.5K 447 25
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Rencana ini gila, benar-benar gila. Sangking gilanya Riana tidak henti-hentinya merutuki diri selama berada di ruangan yang kini terasa mencekam. Lirikan ke arah lelaki yang masih nampak tenang pun beberapa kali ia lakukan, ingin memastikan raut tak terbaca itu.

Sudah hampir tiga jam menunggu kedua orang yang kini sedang dalam perjalanan menuju pesantren, dan sudah beberapa kali pula ia ditawarkan untuk sarapan yang berakhir langsung ia tolak sebab merasa tidak nafsu. Di ruang tamu yang kini dinginnya menusuk tulang—mungkin disebabkan rencana gilanya itu—dan di hadapan suasana yang menegangkan itu, mana mungkin perutnya akan bernafsu untuk makan.

"Assalamualaikum."

Ujaran salam yang begitu tidak asing itu langsung membuat semua orang yang berada di ruang tamu menoleh.

"Wa'alaikumussalam."

"MAMAA!!" Riana berlari ke arah perempuan yang sudah satu bulan ini ia rindukan. Memeluknya dengan erat. "Riana kangen," ujarnya manja.

Elis membalas pelukan Riana. "Mama juga kangen Riana."

Pelukan itu tidak lama terlepas. "Niatnya Mama sama Papa bakal ke sini lusa, tapi tadi subuh udah disuruh ke sini sama Annisa gara-gara kamu bikin ulah." Ia menjitak kepala putrinya itu. "Kamu kayaknya emang suka banget ya bikin Mama pusing? Udah dimasukin ke pesantren juga ada aja kasus yang kamu bikin."

Riana cemberut. "Salah Mama juga gak mau ngeluangin waktu sehari aja buat Riana," balasnya dengan suara yang begitu pelan.

"Jangan berdiri di situ, ayo masuk, duduk di sana," ujar Annisa, mempersilakan teman dekatnya itu.

Mereka menuruti. Kini kursi ruang tamu itu penuh diisi oleh keluarga Al-khayr dan Maheswara, kecuali Alifa yang sudah pergi ke sekolah dengan membawa informasi bohong kepada teman-teman kamar Riana jika perempuan itu tiba-tiba demam dan saat ini terbaring di dalam kamarnya.

Annisa melirik Kiai Furqan. "Mau langsung dibahas, Mas?"

Elis segera menyahut, "Sebentar aku mau minum dulu biar gak terlalu kaget denger alasan Riana yang pasti gak masuk ke logika itu." Ia segera menuangkan air yang sudah tersedia di atas meja, meminumnya dengan gerakan gelisah.

Riana hanya melirik sinis sebagai tanggapan dari ucapan mamanya itu.

"Mau makan camilan dulu aja?" tawar Annisa setelah Elis selesai minum.

Elis menggeleng. Ia mengatur napasnya lebih santai. "Ayo masuk ke pembahasan."

Setelah mendengar itu, Riana kembali tegang. Ia memang anteng di posisinya, tetapi siapa pun bisa melihat jika perempuan itu sedang gelisah.

Kiai Furqan berdeham sebentar. "Tadi istri saya sudah menyampaikan informasi tentang mereka yang ketahuan tidur satu ranjang, kan?"

Arka dan Elis mengangguk. "Annisa juga bilang, kalau Riana bilang mereka berhubungan badan," balas Elis.

Kiai Furqan mengangguk. "Kita tinggal tanya ke mereka lebih jelas." Ia menatap putranya yang masih nampak tenang walaupun di posisi seperti ini. "Faiz, apa kamu selama ini berhubungan sama Riana? Berpacaran atau apa?"

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang