[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Riana tidak tahan berada di ndalem saat ini. Temannya suaminya itu begitu aneh dan menyebalkan menurutnya, berbanding terbalik sekali dengan ekspektasinya yang mengira lelaki itu memiliki sifat kalem dan alim sebab lulusan dari kampus yang terpandang oleh pengajaran agamanya. Namun, ternyata jauh sekali dari pemikirannya.
Semua orang yang baru saja bepergian jauh akan merasa lelah dan memilih tidur panjang. Namun, Rama berbeda. Setelah sampai di ndalem, lelaki itu langsung makan banyak seperti manusia kelaparan yang tidak makan sebulan terakhir. Kemudian, masuk ke dalam kamar Faiz begitu saja dengan alasan ingin melihat suasana kamar pengantin baru. Lalu, pergi ke kamar Aidan yang berada di lantai dua. Riana pikir setelah itu Rama akan tidur dan ia bisa mengerjakan tugasnya dengan tenang.
Namun, ternyata salah. Rama justru memutar DJ Garam Cina kembali menggunakan pengeras suara dengan volume penuh sehingga terdengar sampai ke lantai bawah.
Sebab merasa pusing mendengar musik yang diputar Rama, Riana berakhir pergi ke asrama sekarang. Punggungnya ia sandarkan ke dinding kamar asramanya sembari melihat kegiatan teman-temannya yang sibuk merapikan lemari yang sudah berantakan isinya.
"Kamu abis dari mana, Na? Tadi aku liat kamu pergi sama Gus Faiz," tanya Dewi sembari menilap pakaiannya di atas kasur.
"Dari stasiun, jemput tamu yang nggak diundang," dengus Riana.
Siska membereskan berbagai skincare miliknya di lemari. "Siapa?"
"Rama."
Via yang awalnya sibuk mengerjakan tugas sekolahnya di meja belajar itu langsung menoleh kepada Riana. "Rama sahabatnya Gus Faiz sama Gus Aidan?"
Riana mengangguk. "Kalian tau?" Ia menatap teman-temannya bergantian.
Nadia mengangguk. "Tau. Kak Rama mau main doang atau udah bener-bener pulang dari Mesir?"
"Pulang. Katanya dia udah cukup puas di Mesir," jawab Riana.
"Kak Rama udah pulang, kalau Gus Aidan kapan nih, Tik?" Dewi melirik Tika yang juga sibuk membereskan isi lemari.
Tika melirik sinis. "Dia belum lulus," ketusnya.
"Tapi kayaknya Aidan tahun depan lulus, deh," sahut Riana.
Tika melirik Riana sekilas. "Tau dari mana?"
"Faiz tahun depan lulus, Aidan juga sama, dong? Kan, Aidan ngambil jurusan yang masa studinya empat tahun, berarti sama kayak Faiz yang empat tahun juga."
"Aduh, Tika. Gus Aidan tahun depan pulang, tuh. Mendingan kamu ngabdi aja, Tik, satu tahun bareng Nadia sama Via biar tahun depan ketemu Gus Aidan di sini," ujar Siska.
"Gak," balas Tika singkat.
"Nanti ngabarin pernikahannya jangan mendadak kayak Riana, ya?" ucap Nadia.
"Siapa juga yang mau nikah sama Gus Aidan?!" hardik Tika.
"Lho, aku cuman bilang jangan mendadak ngabarin pernikahan kamu, nggak bilang kalau calonnya Gus Aidan, tuh?" Nadia sengaja menggoda Tika. "Oh, berati kamu berharapnya nikahnya sama Gus Aidan, ya?"
Tika mendelik. "NGGAK!"
Dewi mencolek dagu Tika. "Halah, Tika, jujur aja kali kalau emang beneran cinta ke Gus Aidan. Jangan malu-malu gitu, ah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
