16

11.2K 405 14
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Gemercik hujan terasa begitu menenangkan di sore hari. Helaian angin sesekali membawa cipratan air hujan mengenai tembok-tembok dan lantai rumah. Jendela kamar yang ditutup pun kini dihiasi jejak-jejak air hujan.

Hujan yang deras menyebabkan Riana terkurung di kamar Faiz yang kini menjadi kamarnya juga. Lelaki itu masih belum pulang dari kampus, Alifa entah pergi ke mana hingga belum pulang sampai saat ini, dan kedua mertuanya yang sepertinya sedang tidur di dalam kamarnya, membuat Riana merasa kesepian di ndalem. Sebab hujan, WiFi di ndalem kini dimatikan sebab takut tersambar petir, menyebabkan Riana yang baru saja kehabisan kuota internet itu mengobrak-abrik isi kamar lelaki itu.

Sudah beberapa buku Bisnis & Ekonomi milik Faiz yang ia coba baca, tetapi berakhir kembali ditaruh tanpa menyelesaikannya sebab merasa bosan. "Kenapa dia nggak punya novel satu pun, sih," gerutu Riana.

Riana beralih mengambil satu kitab yang menarik perhatiannya. "Buset, isinya gundul semua kayak kepala Ipin," celetuknya tatkala melihat isi kitab tersebut yang tanpa menggunakan harakat.

Ia kembali menaruhnya sebab tiba-tiba ingin menangis karena sangking tidak pahamnya dengan tulisan di dalam kitab tersebut. Perempuan itu beralih membuka lemari di samping meja belajar yang ia tahu itu berisi berbagai penghargaan milik Faiz.

Tulisan demi tulisan yang berada di sana ia baca semuanya. Penghargaan itu didapati pertama kali ketika lelaki itu masih duduk di bangku dasar, memenangkan juara satu olimpiade matematika tingkat nasional. Selain itu, piala-piala keagamaan juga turut didapatkan sedari kecil.

Riana tidak heran jika lelaki itu memenangkan berbagai lomba keagamaan sebab bisa dilihat dari latar belakang keluarganya, juga tidak heran jika lelaki itu mendapatkan juara olimpiade matematika sebab terkadang lelaki itu menggantikan guru matematika di sekolahnya tatkala guru aslinya sedang berhalangan hadir. Namun, ketika mendapati lelaki itu yang memenangkan beberapa juara lomba karya tulis ilmiah dan desain poster sewaktu SMA, ia cukup terkejut. "Semuanya diembat," celetuknya setelah selesai melihat seluruh prestasi milik lelaki itu.

Selain melihat seluruh penghargaan yang didapatkan Faiz, Riana juga membuka-buka rapor milik lelaki itu dari PAUD hingga SMA. Awalnya ia tidak berani mengobrak-abrik benda-benda milik lelaki itu, tetapi rasa penasaran di dalam dirinya tidak bisa ditahan. "Buset konsisten banget nilainya bagus semua dari PAUD sampe SMA. Ada, nih, yang C satu waktu kelas tiga SD, setelah itu nggak ada lagi. Kebanyakan A sama B," ujarnya sembari membuka-buka lembaran demi lembaran.

"Ini kalau disandingin sama rapor gue yang kebanyakan C jadi kerasa banget gue negatifnya." Ia kembali membereskan rapor tersebut, menaruhnya ke tempat semula.

Tidak lama, suara pintu depan yang dibuka terdengar, lalu langkah kaki tersebut mendekati kamarnya. Riana bisa menduga jika orang itu adalah Faiz, dan benar saja, tidak lama pintu kamarnya dibuka menampilkan lelaki yang masih nampak tampan walaupun kini rambutnya sedikit berantakan.

Faiz menaruh backpack berisi MacBook di meja belajar. "Kenapa duduk di lantai? Nggak ke asrama dari tadi?"

Riana mengamati pergerakan Faiz sembari duduk bersila seperti anak kecil di lantai. Ia menggeleng. "Hujan," balasnya singkat.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang