[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Hari ini jadwal menelepon keluarga kembali hadir. Para santri berbondong-bondong mengantre di ruang tata usaha pondok, ingin menelepon orang tua mereka dengan berbagai alasan: kehabisan uang, memastikan bisa datang untuk menjenguk di minggu ini atau tidak, sekadar rindu, atau sekadar memanfaatkan jadwal menelepon. Alasan Riana di opsi ke dua, yaitu menanyakan kembali tentang kunjungan santri kepada orang tuanya.
"Ma, hari Minggu nanti Mama sama Papa bakal jenguk Riana, kan? Hari Minggu hari kunjungan santri, hampir semua wali santri datang buat jenguk anaknya nanti." Riana berbicara antusias melalui sambungan telepon.
"Kayaknya masih belum bisa, Sayang. Temen mama tiba-tiba nambah pesanan, banyak banget. Kalau Papa, sih, udah nggak sesibuk sebelumnya, tapi Papa juga sering banget nganterin mama ke sana-kemari. Jadi, kayaknya minggu ini kami masih belum bisa jenguk kamu. Di-transfer aja dulu, ya?"
Riana menggeleng walaupun Elis pasti tidak bisa melihat gerak-geriknya di sini. "Riana gak mau, Ma! Pokoknya kalian hari Minggu harus datang ke sini! Kalau hari Minggu nanti nggak datang, nggak bakal ada hari kunjungan santri lagi di bulan ini, ada lagi di bulan depan. Masa nanti semua temen Riana dijenguk sama orang tuanya, cuman Riana yang nggak?! Ditambah Riana udah satu bulan di sini dan kalian belum jenguk Riana sama sekali."
Hembusan napas panjang terdengar dari sambungan telepon. "Maaf banget, Sayang. Kami tetep nggak bisa datang. Kalau udah nggak sibuk kami bakal segera jenguk kamu ke sana."
"Mama sebelumnya juga ngomong gitu, tapi sampai sekarang nggak ada tuh jenguk Riana!" sentak Riana, "Jujur aja deh, Ma, Mama udah nggak sayang Riana, kan?!"
"Mama tentu sayang Riana dong, tapi mama beneran nggak bisa datang di hari Minggu."
Riana menghela napas, berusaha bersabar. "Minggu depan hari ulang tahun Riana, Mama sama Papa nggak mungkin nggak bakal datang ke sini, kan?"
"Iya, mama inget kok minggu depan hari ulang tahun anak mama. In syaa Allah mama bakal ke sana. Untuk minggu ini mama transfer uang aja, ya?"
"Iya." Riana hanya membalas singkat, lalu menutup telepon secara sepihak.
***
Di hari ulang tahunnya, kedua orang tua Riana tetap tidak datang hingga sore hari, membuat Riana mencak-mencak di dalam kamarnya. "Bener-bener ya orang tua gue! Katanya bakal jenguk gue, tapi mana?! Padahal gue cuman minta dijenguk, bukan minta keluar dari pesantren, tapi kenapa orang tua gue itu susah banget, sih?!"
Riana menatap tanggal yang dibulati pulpen merah di atas kalendar kecil miliknya. "Di hari ulang tahun anaknya pun mereka tetep nggak datang," Ia membanting tubuhnya ke atas kasur. "dan sekarang gue sembilan belas tahun?! Ini beneran gue sekarang sembilan belas tahun?! Temen-temen seangkatan gue masih ada yang umur tujuh belas, harusnya gue masih delapan belas tahun kayak temen-temen gue yang lain! Nasib banget memang yang lahir di awal tahun, berasa tua lebih dulu."
Tika yang mendengar Riana mengoceh sendiri dengan suara keras membuat dirinya terganggu. "Riana, suaranya bisa dikecilin, nggak? Aku lagi murajaah, ngerasa keganggu sama suara kamu itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Fiksi RemajaSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
