30

9.6K 323 28
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Deringan ponsel memecah keheningan, sekaligus mengganggu fokus perempuan yang sedang berkutat dengan tugas sekolah di meja belajarnya. Kepalanya celingukan, mencari keberadaan benda pipih yang ia yakini bukan miliknya sebab nada deringnya berbeda. Netranya langsung menangkap layar yang menyala di atas nakas, lalu menghampirinya untuk melihat nama si penelepon.

Rama.

Nama yang sama dengan yang diceritakan oleh Faiz kemarin. Namun, Riana tidak tahu Rama yang sama atau beda orang. Tangannya segera mengambil ponsel tersebut, ingin memberikannya kepada pemiliknya.

Namun, belum sempat kakinya melangkah keluar kamar, pintu kamar sudah dibuka lebih dulu oleh Faiz.

Riana segera memberikan ponsel tersebut. "Ada yang nelepon."

"Siapa?"

"Temen lo."

Faiz menerimanya, panggilan itu langsung terhubung setelah ia menggeser ikon hijau di layar. "Ada apa, Ram?"

Riana kembali ke meja belajar, kembali sibuk mengerjakan tugas esai yang jawabannya ada semua di buku catatan.

"Mendadak banget?"

Riana menoleh kepada Faiz, fokusnya buyar seketika setelah pertanyaan itu muncul dari mulut Faiz. Benaknya sibuk menebak-nebak tentang apa yang sedang diobrolkan oleh mereka.

"Ya udah saya ke sana sekarang." Faiz menutup telepon setelah mendengar balasan dari sana, lalu berjalan mendekati Riana yang kini menatapnya bingung.

"Kamu mau ikut nggak ke stasiun?"

Riana mengernyit. "Stasiun? Ngapain ke sana?"

"Jemput Rama, dia udah pulang dari Mesir."

"Lah, bukannya dia lagi kuliah?"

"Nanti saya ceritain. Jadi kamu mau ikut atau nggak?" Faiz melirik buku-buku milik Riana yang berserakan di meja belajar. "Lagi ngerjain tugas, ya? Ya udah jangan ik—"

"Mau ikut," potong Riana cepat, "Tugasnya bisa nanti dikerjainnya."

"Mau gitu aja atau ganti baju dulu?"

"Ganti," balas Riana cepat. Ia melirik pakaian Faiz. "Lo mau ganti juga atau nggak?"

"Ganti." Faiz berjalan ke arah lemari, mengambil pakaiannya di sana. "Kamu mau ganti di mana?"

"Di kamar Alifa aja." Riana mengambil pakaiannya cepat, lalu memasuki kamar di sebelahnya.

"Pinjem kamar mandi, Fa!" izin Riana kepada Alifa yang sedang memainkan ponsel di kasurnya, sebelum memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar perempuan itu.

"Iya," balas Alifa sembari tangannya sibuk menggulir komentar di salah satu postingan tentang keburukan yang sering tidak tersorot media di semua kampus Indonesia.

Di salah satu postingan yang diposting di X, banyak mahasiswa yang angkat bicara tentang keburukan kampusnya sendiri, mewanti-wanti anak kelas dua belas yang kini dilema masa depan untuk mempertimbangkan lebih jauh tentang kampus yang akan mereka pilih untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Ia sebagai anak kelas dua belas yang mulai pusing diperingati jika waktu mereka di bangku SMA akan segera berakhir, postingan-postingan tersebut selalu mengambil atensinya, sehingga dirinya akan lama sekali berkutat di postingan seperti itu.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang