[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Suara mesin kendaraan selalu menjadi ciri khas jalan raya. Asap dari knalpot motor dan mobil pun tak mau kalah untuk menjadi ciri khas jalanan kota yang tak pernah sepi. Para pedagang kaki lima berbaris rapi di pinggir jalan, memamerkan dagangannya yang mampu membuat pengendara menepikan kendaraannya untuk mengisi perut di sana.
Jalanan kota di Bandung pada pukul sepuluh pagi selalu ramai di akhir pekan, sebab hampir setiap orang mempunyai agenda pada hari itu, entah berwisata atau sekadar bertemu teman lama.
Kendaraan umum yang dinaiki oleh Riana dan teman-temannya akhirnya sampai pada tujuan—sebuah mal dengan jumlah pengunjung terbanyak di Bandung.
Tika menghirup udara dengan sekali tarikan napas, lalu mengembuskannya secara perlahan. Matanya menatap dunia luar pesantren dengan senyuman yang mengembang. "Udah lama banget aku nggak ngehirup dunia luar pesantren yang sangat indah ini."
Riana menatap Tika sinis. "Alay lo. Belum ada tiga bulan dari liburan semester kemarin."
"Lama itu," balas Tika cepat.
Riana memilih tidak menanggapi lagi. Mereka memasuki mal dengan langkah santai.
"Kita mau ke mana dulu?" tanya Dewi.
"Ke mana aja asal jangan ngabisin duit banyak. Gak ada duit nih, belum dikirimin soalnya," balas Siska.
"Kalian tenang aja. Gue bakal traktir kalian semuanya, kecuali belanjaan yang mau kalian bawa pulang kayak modelan pakaian itu beli sendiri."
"Beneran, Na?" tanya Dewi antusias.
Riana mengangguk.
"Alhamdulillah. Ternyata Ning kita baik juga, ya," ujar Tika.
Riana memutar bola mata malas menanggapi perkataan Tika. "Jadi, kita mau ke mana dulu?"
"Aku mau beli baju gamis sama Siska," ujar Nadia.
"Aku pengen main game," sahut Dewi.
Via menimpal, "Pengen nonton bioskop, film horor biar seru."
"Halah, sok-sokan kamu, Vi, nonton film horor, orang ke toilet aja minta anter," sahut Dewi.
"Kamu juga sering, kok! Masa mau ke kamar mandi malem-malem sendiri, nanti kalau ketemu setan yang nggak ada kepala kayak di cerita-cerita santri lain, gimana? Bisa pingsan di tempat aku," balas Via, mengingat sebuah cerita tentang hantu tanpa kepala yang ramai dibicarakan di kalangan santri.
"Yang katanya suka nyaut 'kepala aja gak punya, apalagi gayung' itu?" tanya Riana.
Via mengangguk cepat. "Iya itu! Serem banget, ih, kalau tiba-tiba ngalamin!"
Riana mengernyit sembari kakinya tetap melangkah bersama teman-temannya, melewati berbagai gerai makanan dan minuman yang berada di lantai satu. "Nggak masuk akal," komentarnya, "Kalau kepala aja gak punya, dia gimana bisa ngomong?"
Via mengerjap. "Lah, iya juga."
"Dibantuin ngomong sama temennya kali," celetuk Tika asal.
"Pasti kamu temennya, Tik," sahut Dewi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Novela JuvenilSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
