07

11.8K 395 1
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Suara ketukan pintu mengalihkan atensi penghuni Kamar Az-zahra yang sedang bersantai ria di sore hari.

"Assalamualaikum?" salam seseorang dibalik pintu.

Dewi menatap Tika. "Buka pintu sana, Tik!"

"Aku udah nyaman di kasur, kamu aja sana!" sahut Tika.

"Ih, aku juga udah nyaman di kasur." Dewi tetap menolak bangun dari singgasananya.

Riana berdecak kesal. Mau tak mau akhirnya ia yang bangkit dari tempat ternyamannya, lalu membuka pintu kamar. "Alifa?"

Alifa tersenyum manis. "Na, orang tua kamu ngirim paket. Barangnya ada di ndalem, aku gak bisa bawa ke sini karena tangan aku penuh sama ini," Ia menunjukkan buku-buku pelajaran di lengannya, "dan harus dianter ke Ustazah Intan sekarang," sambungnya.

Riana mengangguk paham. "Nanti paketnya gue ambil sendiri. Di ndalem ada siapa?"

"Cuman ada Abang, nanti kamu bilang aja ke Abang mau ngambil paket kamu."

Riana mengangguk.

"Ya udah, aku pamit ya, Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam." Setelah memastikan Alifa pergi, Riana masuk kembali ke dalam kamarnya.

"Siapa, Na? Perasaan aku tadi denger suara Ning Alifa," tanya Dewi.

"Emang si Alifa."

"Mau ngapain?"

"Nyuruh gue ambil paket di ndalem." Riana kembali merebahkan tubuhnya.

"Paket dari siapa?"

Riana memejamkan matanya. "Orang tua gue."

"Mau ngambil kapan, Na?" tanya Tika antusias.

"Nanti aja."

"Gak usah nanti-nanti, ayo sekarang aja, Na! Aku anter!" Tika tiba-tiba bangun dari tempat tidurnya, menuruni tangga sebab ia berada di kasur bagian atas, tepat di atas kasurnya Nadia yang saat ini pergi keluar bersama Via.

"Gak mau ah, males," sahut Riana yang masih memejamkan matanya.

Tika menarik tangan Riana, membuat perempuan itu membuka matanya dengan kesal. "Sekarang aja ayo!"

"Kenapa, sih, lo semangat banget? Kan, yang punya paket gue, bukan lo!" Ia tidak sempat mempertahankan posisinya ketika tubuhnya ditarik bangun begitu saja.

"Pasti mau ketemu Gus Faiz itu, Na," celetuk Dewi yang sudah hafal tabiat temannya.

Tika mengacungkan ibu jarinya tanda membenarkan ucapan Dewi.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang