10

13.2K 384 4
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Salat asar berjamaah terlaksana dengan baik. Para santriwati segera mengambil Al-Qur'an masing-masing yang diletakkan di dalam lemari kaca dengan nama sebagai penanda agar tidak tertukar sebab banyak sekali Al-Qur'an serupa. Setelah benda yang selalu menemani mereka kini berada di tangan, mereka mencari tempat ternyaman masing-masing untuk menghafal ayat-ayat baru yang akan disetorkan kepada Ustazah saat ini.

Kepala Riana menunduk menatap Al-Qur'an merah muda miliknya, mengamatinya cukup lama tanpa membukanya, tanpa berniat kembali duduk ke tempatnya semula.

Nadia menghampiri Riana. "Kenapa, Na?"

Riana menggeleng. "Gak kenapa-napa."

"Kirain kenapa berdiri lama banget sambil liatin Al-Qur'an," ungkap Nadia, "Ya udah ayo duduk lagi, aku bantuin ngafal kayak biasanya."

Riana mencegah Nadia. "Gue mau ke toilet dulu bentar, titip Al-Qur'an gue ya."

Nadia mengangguk, menerima Al-Qur'an milik perempuan itu. "Jangan lupa wudu lagi kalau udah selesai."

Riana mengangguk. "Iya."

Riana melepaskan mukenanya, melipatnya dengan rapi, lalu meninggalkannya begitu saja. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu toilet yang berada di musala. Namun, langkahnya berhenti tepat di depan pintu sembari menoleh ke dalam musala, memastikan sesuatu.

Setelah dirasa tidak ada yang memperhatikannya, Riana berjalan cepat menjauhi musala, ingin mencoba kembali hal yang gagal kemarin: kabur dari pesantren.

Langkah kaki Riana membawanya ke gerbang utama pesantren yang masih dijaga ketat oleh dua satpam. Ia mengamati kedua satpam tersebut dari kejauhan. "Gue gak bisa kabur langsung lewat gerbang kalau modelan satpamnya kayak gitu," monolognya, "Andai aja satpam di sini mirip satpam di sekolah gue dulu yang bisa disogok pake rokok, tapi yang ini keliatan banget gak bisa disogok."

Riana menghela napas kasar, kemudian berbelok arah menuju tembok yang sebelumnya menjadi tujuan utama untuk kabur bersama si Jamet.

Awalnya kabur dari pesantren tidak terpikirkan dalam benak Riana sebab akan menimbulkan masalah setelahnya, terutama masalah dengan kedua orang tuanya. Namun, sebab mendapati Rika Si Jamet yang begitu berani untuk kabur membuat jiwa nakalnya meronta-ronta ingin mencobanya. Ditambah kedua orang tuanya yang tidak menepati janji itu membuat ia semakin merasa terbelenggu di pesantren ini. Maka dengan itu, Riana tidak memedulikan risiko ke depannya akan bagaimana lagi, ia hanya ingin pergi dari pesantren saat ini juga.

Langkahnya berhenti tepat di depan tembok yang warnanya sudah nyaris hilang. Ia mengamati sekitar yang sepi, sebelum memanjat tembok tersebut dengan mudah. Kaki kirinya tinggal dipindahkan ke kanan agar sejajar di puncak tembok, lalu meloncat ke bawah—ke luar wilayah pesantren. Namun....

"Mau ke mana kamu?"

Riana menoleh terkejut ke bawah sana dengan tubuh yang refleks mematung.

Di bawah sana, Faiz menatapnya datar dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada. Salah satu alis lelaki itu terangkat penuh tanya ke arah Riana yang nampak kikuk di atas sana.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang