05

13.8K 378 1
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Riana menatap sekeliling ruangan bercat krim muda yang akan ia tempati mulai saat ini. Di sebelah kiri, terdapat empat kasur susun yang bisa ditempati oleh delapan orang—saat ini hanya diisi oleh enam orang, termasuk dirinya—di sebelah kanan terdapat delapan lemari berukuran sedang, dan empat meja belajar di setiap samping kasur. Kamar ini tidak sesumpek seperti yang Riana pikirkan, kamar ini terlihat jauh lebih baik dibandingkan dugaan buruknya tentang pesantren.

Di sepanjang Riana berjalan dari depan pesantren hingga memasuki wilayah asrama, bangunan-bangunan Pesantren Al-karim ini bisa dibilang cukup mewah. Ia tidak tahu pesantren ini memiliki berapa lantai, yang jelas cukup tinggi sehingga ia harus mendongak untuk menatap lantai paling atas. Selain itu, sepertinya cat bangunan itu selalu diperbarui setiap dua tahun sekali atau setiap catnya akan memudar sebab sepanjang ia melihat, tidak ada bangunan yang dibiarkan dengan cat tembok yang mengelupas atau terlalu kotor untuk dilihat.

Namun, Riana belum melihat seluruh tempat ini. Jadi, ia tidak tahu apakah bangunan yang dibiarkan terlihat bagus itu hanya bagian luar saja atau sampai bangunan paling dalam sebab sering sekali ia melihat bangunan yang luarnya tampak bagus, tetapi bagian dalamnya dibiarkan terlihat kumuh.

Riana berjalan ke kasur yang akan menjadi sahabat barunya mulai saat ini. Kebetulan sekali ia mendapatkan kasur di bagian bawah. Jadi, ia tidak perlu repot-repot naik tangga untuk pergi ke kasur bagian atas.

Riana mendudukkan dirinya di atas kasurnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Cukup lama Riana menatap dengan pandangan kosong dan pikiran yang berkelana ke sana-kemari, sebelum terdengar suara berisik yang berasal dari luar pintu kamarnya.

Di menit selanjutnya, pintu kamar dibuka oleh seorang perempuan dengan seragam SMA di tubuhnya, kemudian perempuan itu masuk ke dalam kamar dengan teman-temannya yang lain.

Lima perempuan dengan seragam sekolahnya itu terdiam menatap heran ke arah Riana. Mereka masih berdiri di dekat pintu sembari menatap Riana yang sudah memalingkan wajahnya. Tidak lama, mereka berjalan mendekati Riana.

"Kamu santri baru, ya?" tanya seorang perempuan setelah sampai di hadapan Riana.

"Hm," jawab Riana tanpa menoleh.

Perempuan tersebut mengulurkan tangannya ke depan Riana. "Kenalin, nama aku Nadia."

Riana menatap tangan yang terulur itu kepadanya, kemudian mendongak menatap pemiliknya. Ia membalas uluran tangan tersebut. "Riana."

Nadia tersenyum, lalu jabatan tangan itu terlepas. "Semoga kita berteman dengan baik."

Riana hanya mengangguk tak acuh.

Empat perempuan lainnya yang berada di belakang Nadia tampak terlihat heboh, kemudian menyuruh Nadia menyingkir sebab mereka juga ingin berkenalan dengan teman barunya.

Setelah Nadia menyingkir dari hadapan Riana, teman-temannya yang lain segera mengenalkan namanya masing-masing.

"Nama aku Dewi."

"Kalau aku Siska."

"Aku Cantika, panggil aja Tika. Jangan cantik, nanti aku salting dan semakin pede."

"Aku Olivia, panggil aja Via."

Riana mengangguk. "Riana," balasnya.

Setelah selesai berkenalan, kelima perempuan itu langsung berganti pakaian, sedangkan Riana memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang