[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Jadwal menelepon keluarga membuat Riana merasa dikasih kesempatan untuk menagih janji kepada orang tuanya hari ini. Maka, ia buru-buru datang ke ruang tata usaha pondok, ikut mengantre dengan yang lain sembari menyiapkan untaian kalimat yang akan ia ungkapkan kepada orang tuanya melalui telepon.
Di saat gilirannya tiba, ia langsung memberitahu nama lengkap dan nomor asrama kepada staf di sana. Matanya ikut mengamati catatan khusus yang dimiliki staf yang berisi ringkasan biodata santri di sana, di saat staf tersebut mencari namanya.
Setelah ketemu, perempuan dewasa yang memiliki tugas untuk mengatur komunikasi antara santri dan wali santri itu segera mengetikkan nomor telepon milik Elis di ponsel khusus pondok, menyimpannya dengan nama Bu Elis, ibunya Riana, sebelum memberikan ponselnya kepada Riana. "Masuk ke ruangan itu ya, nanti teleponnya di sana. Batas waktu cuman lima menit karena masih banyak yang nunggu giliran," ujar staf tersebut.
Riana mengangguk, menerima ponsel tersebut, kemudian memasuki ruangan kecil khusus komunikasi antara santri dan wali santri melalui sambungan telepon.
Riana segera menekan panggilan, menunggu hampir satu menit sebelum dijawab oleh Elis.
"Halo, ini siapa ya?"
Suara Elis terdengar, membuat perasaan Riana bercampur antara sedih dan kesal. "Ini Riana," sahutnya, "Nelepon pake ponsel pondok."
"Oh, Riana? Gimana kabar kamu, Sayang?" Elis menjawab dengan antusias.
Riana cemberut. "Mama dan Papa jahat ke Riana," ujarnya tiba-tiba.
"Jahat gimana? Mama sama Papa emangnya ngelakuin kesalahan apa ke anak kesayangan kami ini?" Suara Elis terdengar bingung di sana.
"Mama dan Papa dua kali ngebohongin Riana. Pertama, kata kalian, kalian bakal sering jenguk Riana. Tapi mana? Udah seminggu Riana di sini, tapi kalian gak ada tuh jenguk Riana, malah lebih milih ngirimin Riana paket tiga hari lalu. Kedua, kalian sebenernya kenal, kan, ke Faiz sama Alifa? Kalian gak mungkin gak kenal sama anak temen kalian sendiri. Kata kalian Pak Kiai Furqan sama Umi itu temen deket kalian. Kenapa gak bilang dari awal, sih? Bikin Riana bingung aja kenapa mereka tiba-tiba ada di sini juga," cerocos Riana panjang lebar, dengan nada kesal khasnya, membuat Elis di sana mati-matian untuk tidak tertawa.
"Oh ... gara-gara itu. Mama minta maaf banget, Sayang. Papa sibuk banget di kantor akhir-akhir ini, mama juga sibuk bikin gaun pesanan temen mama yang nggak sedikit itu. Makanya kami belum bisa jenguk kamu lagi ke sana," jelas Elis, "Kalau soal Faiz sama Alifa, mama sama Papa lupa ngasih tau kamu waktu itu. Kami pikir mungkin nanti pas di pesantren juga kamu bakal langsung tau. Maafin kami ya, Sayang?"
Riana menghela napas kasar. "Terus kapan kalian bakal jenguk Riana lagi?"
"Mama belum tau karena sampai saat ini juga mama sama Papa masih sibuk banget."
Riana merasa kesal mendengar jawaban tak pasti itu. "Kira-kira minggu depan kalian ada waktu buat ke sini, gak?"
"Kayaknya nggak, Sayang. Gaun yang mama bikin gak bakal selesai minggu depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
