27

9K 370 28
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Buah-buahan dan sayur segar diletakkan dengan rapi di bagian depan supermarket. Para pengunjung berlalu lalang sembari membawa troli, melihat-lihat bahan makanan apa yang ingin dibeli. Suara gesekan roda troli berpadu dengan bunyi plastik, disusul bunyi bip timbangan digital ketika pembeli telah menentukan pilihan.

Salah satu tangan Riana memegang ponsel Faiz yang menunjukan ruang obrolan dengan Annisa—berisi catatan bahan makanan yang harus dibeli, sedangkan tangan lainnya sibuk memilih-milih buah untuk dibeli.

Riana menoleh kepada Faiz yang sibuk mengekori sembari mendorong troli. "Lo mau buah apa?"

Faiz menatap beberapa buah yang terlihat segar. "Alpukat."

Riana beralih mengambil beberapa alpukat, kemudian menimbangnya di timbangan digital. "Mau apa lagi?" tanyanya sembari menaruh buah yang sudah ditimbang ke dalam troli.

"Anggur."

Riana mengambil anggur yang sudah dibungkus, menaruhnya ke dalam troli. "Ada lagi?"

"Udah itu aja. Kalau kamu mau buah yang lain ambil aja."

"Emang mau ngambil," balas Riana cepat, sebelum memilih-milih semua buah untuk dibeli.

Faiz menatap Riana heran. "Kalau kamu mau beli semuanya ngapain kamu nanya saya mau buah apa?"

Riana mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Nanya doang, sih."

Faiz menghela napas kasar. Terserah.

Lelaki itu mengambil satu jeruk secara acak, lalu memberikannya kepada Riana yang memang sedang memilih-milih jeruk.

Riana mengambil jeruk tersebut, mengamatinya, sebelum ditaruh kembali.

Kening Faiz mengerut heran. Jeruk yang ia pilih bagus, mengapa tidak dipilih oleh perempuan itu?

Riana menaruh jeruk yang sudah ditimbang ke dalam troli, lalu kembali memilih buah yang lain.

Faiz melirik ke arah layar ponselnya yang masih menyala di tangan Riana. Ia segera menangkap sayur apa saja yang harus dibeli di sana. "Saya mau ngambil sayur dulu."

Riana mengangguk singkat. "Pilih yang bagus sama yang besar ukurannya."

Kaki Faiz melangkah ke arah selada yang sudah dibungkus, mengambilnya beberapa, lalu memilih-milih kentang dan sawi yang setengahnya dibiarkan terbuka agar pembeli memilih dan menimbang sendiri.

Setelah tangan Faiz penuh oleh sayuran, ia kembali berjalan ke arah Riana yang telah selesai memilih buah, lalu menaruh semua sayur di tangannya ke dalam troli yang dicekal perempuan itu.

Riana melirik sayur tersebut, sebelum menatap Faiz. "Udah dibeli semua yang disuruh Umi?"

"Udah," balas Faiz, lalu mengambil alih troli tersebut, membiarkan Riana berjalan di sampingnya tanpa membawa apa pun, kecuali ponsel miliknya yang berisi catatan bahan makanan yang diberikan oleh Annisa.

Kini mereka melangkah menuju berbagai camilan yang berjejer rapi di rak panjang. Kaki Riana yang beralas sandal flat krim muda itu melangkah riang mendahului Faiz, kepalanya menoleh ke kanan-kiri dengan binar yang langsung muncul di matanya. Tangannya terasa gatal—ingin mengambil semua camilan yang berada di sana.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang