[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Dua minggu di rumah sakit sebagai pasien rasanya cukup melelahkan. Keluhan datang dan pergi sesuka hati, tubuh tak leluasa bergerak selagi infus masih terpasang di tangan, dan lidah terasa hambar tatkala menyantap makanan yang telah diberikan oleh pihak rumah sakit.
Namun, kehadiran orang yang dicintai selalu menjadi obatnya. Semua hal yang terasa memusingkan berubah menjadi kebahagiaan tatkala perempuan itu memusatkan perhatian kepadanya.
Jika rumah sakit membuat Faiz mendapatkan perhatian Riana yang begitu manis, ia rasanya semakin ingin berlama-lama di rumah sakit. Namun, sayangnya, dokter sudah membolehkan ia pulang setelah memeriksa kondisinya selalu membaik setiap harinya.
Netra Faiz sedari tadi mengamati Riana yang sedang membereskan pakaian yang digunakan selama di rumah sakit untuk dibawa pulang kembali, lalu membereskan sampah-sampah camilan bekas perempuan itu. Ia sudah menawarkan diri untuk membantu sedari tadi, tetapi selalu ditolak mentah-mentah.
"Assalamualaikum!" Rama memasuki ruangan dengan suara salam yang sengaja dikeraskan, disusul Kiai Furqan dan Annisa di belakangnya.
"Wa'alaikumussalam."
Annisa menghampiri Faiz. "Infusnya udah dilepas, Bang?"
Faiz mengangguk. Ia memperlihatkan tangannya yang berbekas infusan. "Udah, Umi."
"Ada yang masih kerasa sakit, gak? Kalau ada, Umi bakal minta perpanjangan waktu aja biar Abang dirawat lebih lama di sini," ujar Annisa, sembari menatap putra sulungnya khawatir.
Faiz tersenyum. "Abang udah sembuh, Mi. Umi gak perlu khawatir lagi."
Annisa menghela napas. "Kalau ada yang kerasa sakit langsung bilang ke Umi."
Faiz mengangguk.
"Tadi Arka sama Elis pamitan ke sini, gak?" tanya Kiai Furqan, "Katanya gak bisa lebih lama lagi di Bandung, kerjaannya udah numpuk."
"Iya, tadi ke sini buat pamitan," balas Faiz.
"Ya udah ayo pulang." Kiai Furqan mengambil tas-tas yang sebelumnya sudah dibereskan oleh Riana.
Mereka berjalan keluar ruangan, menaiki lift untuk turun ke lantai dasar.
"Mobil lo belum selesai diperbaiki, nanti pake mobil gue dulu aja kalau butuh." Rama membuka topik selagi lift yang dinaiki bergerak turun.
"Mobil Abi yang jarang dipake juga ada di garasi. Nanti gue pake yang itu aja dulu kalau butuh," balas Faiz.
"Jangan nyetir dulu," sahut Riana cepat sembari keluar dari lift bersama yang lain, "Fokus istirahat aja sampe bener-bener sembuh kayak suruhan dokter."
Annisa langsung menyetujui, "Iya, Abang lebih baik jangan nyetir dulu sampe beberapa bulan ke depan. Umi takut kamu kecelakaan lagi."
"Umi, kalau sampe beberapa bulan ke depan itu kelamaan. Faiz seminggu di rumah juga kayaknya udah beneran sembuh."
"Umi takut kamu kenapa-napa lagi."
Faiz tersenyum. "Nanti Faiz bakal lebih hati-hati lagi bawa mobilnya. Umi gak perlu khawatir."
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
