[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Suara bantingan pintu bertemu tembok terdengar cukup nyaring. Si pelaku melangkahkan kakinya tergesa-gesa ke dalam kamar asrama, mengambil botol aqua, dan meminumnya hingga tandas.
Pagi ini matahari terlalu bersemangat untuk menampilkan sinarnya, begitu pun dengan penghuni Kamar Az-zahra yang saat ini membersihkan halaman dengan riang, kecuali Riana yang saat ini bernapas lega sebab tenggorokannya kembali terasa segar.
Semua teman-temannya nampak bersemangat, berbeda dengannya yang saat ini mati-matian menahan kantuk. Si lelaki menyebalkan sepesantren Al-Karim itu semalam memberikan hukuman mengaji hingga ke Iqro'2, membuat matanya terpaksa terbuka selama menjalankan hukuman walaupun beberapa kali menguap yang berakhir kena tegur sebab tidak menutup mulut di saat mulutnya terbuka lebar.
Hari ini adalah hari Minggu, hari yang paling dinantikan semua umat manusia. Namun, sialnya, ia bernasib tinggal di pesantren yang mewajibkan Minggu pagi dengan membersihkan lingkungan pesantren. Jadwal yang menurutnya paling menyebalkan dari jadwal lainnya.
"Riana, kamu lama banget di dalem ngapain aja?! Halamannya belum selesai dibersihin, jangan tidur dulu!" Tika memekik dari luar kamar, membuat Riana segera kembali keluar untuk melanjutkan kegiatannya.
Sebenarnya ia paling membenci kerja bakti seperti ini, tetapi jika tidak dilaksanakan pasti mulut teman sekamarnya itu tidak akan berhenti mengoceh untuk mengomelinya. Maka, mau tak mau ia ikut bekerja bakti pagi ini walaupun kepalanya sedikit pusing sebab kurang tidur semalam.
Via mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar Kamar Az-zahra. "Aku semalem kebangun tengah malem, terus nggak ngeliat kamu di kasur. Kamu ke mana semalem?"
Riana menaruh hasil cabutan rumputnya ke dalam ember berisi sampah serupa. "Keluar buat cari angin, berakhir ketemu dua setan berbentuk manusia," balasnya asal.
Via menoleh cepat. "Hah? Siapa?"
"Si Jamet sama si ...," ucapan Riana menggantung, ia tidak punya nama khusus untuk si lelaki menyebalkan itu. Jika langsung menyebut nama, sudah dipastikan akan kena tegur keras oleh temannya sebab tidak sopan, "Satu lagi si itu pokoknya," sambungnya.
Kening Via mengerut. "Si itu siapa? Terus si Jamet siapa?"
Riana berdecak. "Gak perlu tau. Intinya tuh orang nyebelin banget. Yang satu licik banget, yang satu lagi gak punya hati dan belas kasih."
"Parah banget emangnya sampe kamu ngomong setan berbentuk manusia?" Via masih merasa penasaran.
Riana mengangguk. "Parah pokoknya! Lo kalau ketemu si Jamet ini, pasti lo gak bakal nyangka sama dia soalnya dia bisa muterin fakta pake muka dia yang melas kayak nahan berak itu. Dan, kalau lo kelibat sama si orang gak punya hati dan belas kasih itu rasanya mampus parah. Dia gak bakal ngasih keringanan kalau lo buat salah. Masa semalem gue yang sering bolos ngaji ini terus-terusan dipaksa ngaji sampe Iqro'2! Lo bayangin deh kabar otak gue semalem!" Setelah mengatakan itu panjang lebar, Riana langsung terdiam sebab keceplosan di akhir. Ia tidak sadar memberikan informasi jika ia dihukum mengaji semalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
