13

12.8K 429 17
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Riana merebahkan tubuhnya di kamar Alifa setelah membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sebab memakai gaun pengantin seharian. Matanya memejam menikmati tubuh yang terasa mengenakkan setelah dibaringkan ke atas kasur. "Cape banget," gumamnya.

Si pemilik kamar berdominan merah muda itu memasuki kamar, terkejut melihat teman yang sekarang telah menjadi kakak iparnya sedang tertidur di kamarnya. Alifa mendekati Riana dengan langkah cepat. "Na, kamu ngapain di sini?!"

"Tidur," balas Riana tanpa membuka matanya.

"Ngapain tidur di sini?!"

Riana tampak terusik dengan pertanyaan tersebut. Matanya segera terbuka. "Kenapa? Gak boleh? Bukannya baru minggu kemarin lo bilang kalau gue bahkan boleh nginep selamanya di sini? Sekarang lo udah langsung berubah pikiran?"

"Bukan gitu maksud aku, tapi kan sekarang kamu udah nikah sama Abang, harusnya kamu tidur di kamarnya sekarang, bukan di kamar aku," jelas Alifa.

Kening Riana mengerut. "Emangnya kalau gue udah nikah sama abang lo, gue harus tidur di kamarnya gitu?"

Alifa mengangguk.

"Satu kamar sama dia?"

Alifa kembali mengangguk.

"Nggak tidur di asrama lagi?"

Alifa mengangguk untuk ke tiga kalinya.

"Selamanya?!"

Alifa menghembuskan napas lelah. "Iyaaa."

"OGAH!" tolaknya mentah-mentah, kemudian memiringkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman sebelum memasuki alam mimpi.

"Lho? Kamu gak boleh gi—"

Ketukan pintu di kamarnya terdengar, disusul oleh suara Faiz, "Alifa?"

"Iya, Abang! Sebentar!" Alifa segera membukakan pintu untuk lelaki itu.

"Ada Riana?" tanya Faiz langsung.

Alifa mengangguk. "Ada, Bang, di dalem. Abang masuk aja, Alifa mau ke dapur dulu." Ia segera pergi ke dapur, memberi ruang untuk pasangan suami-istri baru itu.

Faiz berjalan ke kasur adiknya yang saat ini ditempati Riana. "Riana, saya tahu kalau kamu belum tidur."

"Emang," sahut Riana tanpa membuka mata.

"Ayo pindah."

Riana tetap diam.

"Riana," panggil lelaki itu lagi dengan nada yang tidak mau dibantah.

Riana membuka matanya. "Kenapa sih, Gus? Gue tuh ngantuk pengen tidur!" kesalnya.

"Tidur di kamar saya."

Riana mendelik. "Nggak!"

Faiz berdecak kesal. "Saya lagi nggak mau ribut sama kamu. Ayo cepet!"

Riana mendudukkan dirinya dengan kesal. "Kalau gue gak mau, ya gak mau!"

Faiz mengangguk. "Ya sudah kalau nggak mau, paling besok langsung ditanyain dan dikasih semprotan rohani dari keluarga, termasuk orang tau kamu," ujar Faiz santai.

Mendengar itu, Riana berdecak kesal. Jelas ia tidak mau itu terjadi sebab bisa dipastikan telinganya akan dijewer oleh Elis sembari mengomelinya panjang lebar. Ia berdiri, berjalan melewati lelaki itu dengan menghentakkan kakinya kesal. Namun, sebelum benar-benar melewati Faiz, lengannya sudah dicekal lebih dulu oleh lelaki itu, membuat Riana menatap Faiz tidak terima. "Ngapain pegang-pegang tangan gue?!" sungutnya.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang