38

7.2K 289 66
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Pertanyaan Riana diabaikan begitu saja oleh Faiz. Lelaki itu sengaja sekali membuat istrinya penasaran setengah mati, dibiarkan terus-menerus merengek di sampingnya sedari perjalanan pulang hingga di dalam kamar.

"Faiz, lo belum jawab pertanyaan gue dari tadi!" Riana berujar kesal, sembari mengikuti langkah Faiz yang mengarah ke sofa di pojok kamar.

Faiz mendudukkan bokongnya di sofa, tangannya memainkan ponselnya dengan santai, tidak berniat membalas ucapan Riana.

Riana langsung mendudukkan diri di samping Faiz. Wajahnya sudah masam sedari tadi. "Faiz, gue lagi ngomong! Harusnya liatin gue, bukan HP!"

Faiz menyandarkan punggungnya, tetap mengabaikan Riana.

Riana sudah kesal sekali saat ini. Ia menggoyangkan lengan Faiz dengan gerakan cepat. "Faiz, ih! Jawab pertanyaan gue dulu!"

Faiz tetap bergeming.

"Faiz, nyuekin istri tanpa alasan itu dosa, lho." Riana kembali menggoyangkan lengan Faiz. Jika lelaki itu tetap tidak menjawabnya setelah ini, ia akan menggigit lengannya dengan keras saat ini juga.

Faiz menoleh. "Kan, saya ada alasannya."

Riana yang sudah berancang-ancang untuk menggigit lengan lelaki itu pun langsung diurungkan setelah mendapatkan balasan. "Tapi, kan, alasannya nggak jelas, masa ditanya gitu doang gak mau jawab."

Bukannya mendapatkan jawaban, Faiz malah kembali memainkan ponselnya tanpa sepatah kata pun.

Bibir Riana cemberut. Tangannya kembali menggoyangkan lengan Faiz. "Faiz...."

Faiz mengembuskan napas panjang. Tubuhnya dihadapkan ke arah Riana setelah mematikan ponselnya dan menaruhnya ke atas meja yang berada di depannya. "Kamu mau tau?"

Riana mengangguk antusias.

"Saya pernah dijodohin sama kamu sebelum kamu kenal saya."

Riana mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" Ia kebingungan dengan perkataan Faiz.

"Kamu inget gak kalau kamu pernah dikasih dua pilihan sama Papa?"

Riana terdiam.

"Pa, Riana gak mau masuk pesantren, apalagi harus dijodohin!" bantah Riana tegas.

"Papa gak minta pendapat kamu! Papa cuman mau kamu pilih dijodohin atau masuk pesantren! Papa tunggu jawaban kamu secepatnya." Arka berdiri, lalu meninggalkan Riana yang saat ini memanggilnya terus-menerus, tetapi hanya diabaikan olehnya.

Riana menatap Faiz kaget. Tatapannya kini menandakan butuh penjelasan dari lelaki itu.

Faiz mengangguk. "Iya. Saya orangnya yang bakal dijodohin sama kamu waktu itu," beritahunya, "Tahun lalu Abi bilang kalau saya bakal dijodohin sama anak temennya, orang tuanya minta saya bimbing dia dengan cara jadi suaminya, tapi itu semua tergantung keputusan putrinya. Kalau nolak, bakal dipesantrenin di sini." Ia menatap Riana yang masih bergeming di tempatnya, perempuan itu masih tampak tidak percaya dengan semua ini. "Waktu itu Abi nunjukin foto kamu ke saya, ternyata saya pernah ketemu kamu sebelumnya."

"Kapan?" tanya Riana cepat.

Faiz tersenyum. "Dulu, waktu saya di Jakarta."

Semua keresahan bergejolak dalam pikiran Faiz, saling berdesakan tanpa memberi ruang untuk bernapas.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang