[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Bujukan demi bujukan dengan ekspresi yang begitu memelas mampu membuat seluruh atensi manusia yang berada di ruang tamu mengarah ke arah perempuan yang kini memeluk ibunya erat.
"Ma, pulangnya nanti aja, ya?" bujuk Riana lembut, "Minggu depan aja, ya?"
Elis menggeleng. Ia berusaha melepaskan pelukan putrinya yang justru semakin mengerat. "Nggak bisa, Sayang. Mama masih banyak kerjaan di rumah, nggak bisa lama-lama di sini. Emangnya waktu tiga hari Mama sama Papa di sini masih kurang buat kamu?"
Riana mengangguk. "Masih! Kenapa Mama sama Papa nggak pindah ke sini aja selamanya biar nggak perlu jauh-jauh sama Riana?"
"Kalau mama sama Papa pindah ke sini, terus rumah di Jakarta siapa yang mau nempatin?"
"Jual aja," cetus Riana cepat.
Elis memukul punggung putrinya pelan. "Enak aja kalau ngomong, rumah turun-temurun itu." Ia melepaskan pelukan di antara keduanya. "Udah jangan manja, mama sama Papa harus berangkat sekarang. Kamu kalau mau main ke rumah, nanti pergi bareng aja sama Faiz."
"Beneran boleh main kapan aja ke Jakarta?"
Elis mengangguk. "Kamu masih anak mama, nggak mungkin nggak bakal mama gak bolehin."
Riana langsung menoleh ke arah Faiz yang berdiri di sampingnya. "Ya udah sekarang aja ayo ke Jakarta!" ujarnya antusias.
Faiz menggeleng. "Nggak bisa hari ini, saya harus ke kampus."
Riana cemberut. "Nggak bisa bolos aja?"
Faiz menggeleng. "Saya udah punya janji sama temen, nggak bisa dibatalin."
Kedua bahu Riana merosot bersamaan. Namun, sepersekian detik selanjutnya ia kembali semangat. "Ya udah kalau gitu Riana pergi bareng kalian aja sekarang, nanti Gus Faiz bisa nyusul besok."
"Nggak boleh," bantah Elis, "Kamu kalau mau ke sana harus sama suami kamu. Lagian besok kamu harus sekolah, kan? Main ke Jakartanya bisa kapan-kapan."
Riana semakin cemberut. "Nggak mau, maunya sekarang, mau ikut sama Mama Papa."
"Nggak bisa, kamu di pesantren aja," sahut Arka yang sedari tadi diam, membuat Riana tidak berani merengek lagi. Ia menatap temannya. "Kami pulang sekarang ya, anak saya jangan digalakin."
Kiai Furqan terkekeh. "Harusnya kamu bilang gitu ke putra saya, bukan ke saya."
Arka berdecak. "Takutnya pas nggak ada saya kamu jadi mertua yang galak."
"Nggak mungkin dong," balas Kiai Furqan dengan yakin.
Arka mengangguk. Ia beralih menepuk bahu Faiz pelan. "Papa titip Riana ya, tolong bimbing dia dengan baik, kalau bandel jitak aja kepalanya."
"Pa!" seru Riana.
"Jewer juga," timpal Elis.
Riana menoleh ke arah mamanya. "Ma!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Fiksi RemajaSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
