Sedang dalam proses revisi‼️
Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu.
•
•
•
Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
Sebelum baca part ini lebih baik baca AU bagian Riana vs "si gatel" dulu di Instagram aku biar tau siapa "si gatel" yang dimaksud Riana di part ini
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Itu ya nama akunnya, bisa kalian cari atau bisa langsung dari link yang udah aku taro di bio. Postingan yang tengah itu pas Riana sama Faiz udah saling cinta ya, saat ini belum ngaku🤭
Awalnya mau aku post di tiktok tapi fitur slide tiba-tiba ilang, terus muncul lagi, ilang lagi... yaudah berakhir di Instagram😪 Bisa kalian follow yaa akunnya karena mungkin nanti pas menuju konflik bakal aku private lagi akunnya jadi kalian yang belum follow harus nunggu aku konfirmasi dulu buat liat 1 part di sana (pas puncak konflik aku pindah 1 part ke sana dan postingannya lagi aku arsip sekarang)
Oh ya, makasih yaa udah mampir ke akun tiktok aku dan sering komen di sana walaupun kadang nggak aku bales hihi. Yang sering komen di sini juga buat nyemangatin dan nunggu banget lanjutannya makasih banyaak yaa, tapi kayaknya kalau kalian fokus komen tentang ceritanya di paragraf masing-masing bakal bikin aku tambah semangat, kayaknya sampe bisa update 2 hari sekali deh🤭
Aku cuman mau ngasih info itu aja. Selamat membaca, usahakan vote dan komen biar bikin aku tambah semangat buat update part selanjutnya🤍
^^
Cahaya matahari meredup sebab tertutup awan, helaian angin menyusup masuk melalui jendela kamar yang terbuka, menyapa kulit si perempuan yang sedang memainkan ponsel di atas ranjang.
Rintik hujan turun bersamaan dengan ketukan pintu di kamarnya. Kepala Riana menoleh ke arah pintu yang masih tertutup. "Siapa?"
"Ini kita, Na!" Via menyahut dari balik pintu.
"Masuk aja." Riana mematikan ponselnya, beralih posisi menjadi duduk.
Teman-teman Riana yang berada di depan pintu kamar langsung masuk saat sudah mendapatkan izin dari si pemilik kamar.
Via berlari mendekati Riana, berdiri tepat di samping ranjang. "Kamu sakit apa, Na?!" tanyanya heboh.
"Sakit biasa."
"Bisa sakit juga kamu, Na," ujar Tika.
Riana menatap Tika sinis. "Ya bisa, lah!"
Via mengerjap. "Emang ada namanya sakit biasa?"
Riana menghela napas mendengar pertanyaan Via.
Via menatap Nadia. "Kok, aku baru tau penyakit biasa ya, Na?"
"Maksud Riana itu cuman sakit biasa, nggak ada penyakit yang serius," jelas Nadia dengan suara yang selalu lembut. Hatinya selalu sabar walaupun dihadapkan dengan Via yang otaknya keseringan hilang sinyal.