[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Uap panas mengepul seiring mi rebus dituangkan ke dalam mangkuk. Tangan lentik dengan kuku bersih itu mengaduk-aduk mi tersebut bersama bumbu-bumbu yang sudah dituangkan sebelumnya. Harum dari mi langsung mengudara, memanjakan indra penciuman, dan membuat lidah tidak sabaran untuk mencobanya.
Riana menaruh dua potong telur rebus setengah matang di atas mi, lalu menaruh mangkuk tersebut ke atas meja makan. Kakinya melangkah ke arah kamar untuk mengambil ponselnya di sana. Ia tidak bisa makan sendirian tanpa melihat ponsel yang menayangkan sebuah video panjang.
Setibanya di kamar, ia tidak menemukan keberadaan ponselnya. Kakinya melangkah ke sana-kemari, mencari di tempat-tempat yang biasanya ia taruh ponselnya. Namun, tetap tidak ada. Tangannya menggaruk kepalanya. "Gue taro di mana, sih, tadi?" monolognya kesal.
Riana mendudukkan diri di atas kasur. "Tadi, kan, gue main HP di sini, terus gue ke kamar mandi, terus gue tidur lagi, terus ke kamar Alif— Nah, di kamar Alifa!" Ia menjentikkan jarinya, lalu pergi ke kamar adik iparnya.
Tidak ada si pemilik kamar berdominan merah muda di sana. Netra Riana langsung menangkap ponselnya yang tergeletak di atas kasur Alifa, lalu mengambilnya. Kakinya segera melangkah kembali ke dapur, siap memakan mi yang harumnya membuat perut nambah keroncongan. Namun, setibanya di dapur, makanan yang sudah ia buat dengan sepenuh hati itu sudah masuk ke dalam mulut Rama saat ini.
"RAMAA ITU MIE GUEE!" pekik Riana marah.
Rama yang sedang menikmati mi rebus di meja makan itu langsung tersedak. Ia menatap Riana yang wajahnya sudah merah padam karena emosi. "Emangnya ini mie lo?" tunjuknya ke arah mi yang kini tersisa setengah.
Riana berjalan ke arah Rama dengan tatapan tajam yang menusuk. "Lo emang bener-bener ya...," geramnya.
Rama langsung berdiri, kakinya berjalan mundur saat Riana mulai mendekatinya dengan hawa yang sangat negatif. Ia mengangkat dua tangannya ke atas seperti sedang ditodong pistol. "Gue gak tau kalau itu mie lo, gue kira tadi punya si Faiz, makanya gue makan," jelasnya takut.
Riana berlari mendekati Rama, kemudian langsung menarik rambut lelaki itu dengan kuat hingga kepalanya otomatis memiring mengikuti jambakannya.
"AAAA SAKIT, WOY!" pekik Rama.
Riana masih menjambak rambut lelaki itu tanpa ampun. Beruntung ndalem saat ini tidak ada Kiai Furqan dan Annisa, sehingga ia bebas berteriak atau melakukan penganiayaan terhadap manusia kurang ajar ini.
Rama berusaha melepaskan jambakan Riana dengan cara menarik lengan perempuan itu yang tertutup pakaian lengan panjang. Namun, Riana sepertinya saat ini sedang mengeluarkan kekuatan ekstra sehingga tidak mudah untuk melepaskannya.
"WOY, AMPUN! LEPASIN RAMBUT GUE!" pekik Rama lagi.
Riana malah semakin menarik rambut lelaki itu kuat. "Nggak! Gue cape-cape buat mie, tapi malah lo yang makan!" sentaknya.
"Kan, gue nggak tau kalau itu mie punya lo." Rama berusaha membela diri.
"Ya emang kalau bukan punya gue lo mau apa?! Kalau itu mie punya Faiz lo bakal tetep makan?! Lo kan, tau kalau tuh mie bukan punya lo, haram hukumnya kalau lo makan tanpa seizin yang punya!" tekan Riana. "Gimana sih lo, lulusan Universitas Al-Azhar tapi otak sama akhlak lo nggak mencerminkan lulusan sana," sarkasmenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Ficção AdolescenteSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
