Sedang dalam proses revisi‼️
Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu.
•
•
•
Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
Ketukan pintu rumah terdengar hingga dapur. Perempuan yang awalnya memakan anggur di meja makan itu segera membuka pintu, lalu mendelik sinis kepada temannya yang menyengir tak bersalah sebab telah membuat pikirannya kacau berhari-hari.
Riana segera berbalik menuju kamar, diikuti Veli di belakangnya sembari membawa tas belanjaan.
"Lo ke sini sendiri, kan? Nggak sama si Setan itu?"
Kening Veli mengerut. "Setan?"
Riana berdecak. "Rama," beritahunya.
"Nggak. Gue sendiri, kok, aman," jawab Veli. Ia mengamati ndalem yang sepi. "Yang lain ke mana, Na? Perasaan setiap gue ke sini pasti sepi."
"Faiz nemenin Umi dan Abi ke supermarket, kalau Alifa gue nggak tau ke mana," balas Riana sembari membuka pintu kamar, memasukinya bersama Veli.
"Kalau santri? Biasanya di pesantren lain ada santri yang bantu beres-beres di ndalem atau apa pun itu yang ada jadwalnya."
Riana mendudukkan diri di atas ranjang, disusul Veli. "Di sini nggak ada kayak gitu. Santri di sini cuman disuruh fokus belajar, paling kalau bersih-bersih cuman di lingkungan pesantren di hari minggu doang, kalau hari lainnya ada petugas kebersihannya sendiri," jawab Riana, "Kalau ndalem ya dibersihin sama anggota keluarganya sendiri, paling kalau ada acara dibantu Bu Iyem—orang yang suka masak makanan buat santri setiap harinya—dan tentu aja dibayar sama Umi, gajinya bakal ditambahin kalau bantu beres-beres di sini pas ada acara."
Veli manggut-manggut. "Anak gue nanti kalau mau mondok bakal gue masukin sini, ah. Biaya bulanan satu setengah juta, kan?"
Riana mendelik. "Punya anak aja belum, udah mikir sampe sana!"
"Emang kenapa, sih? Salah?"
"Nggak," balas Riana malas. "Gue harus apa?" tanyanya, mengubah topik ke arah topik utama yang akan mereka bahas.
"Oh iya, gue lupa." Veli mengeluarkan dua baju dengan model dan warna yang berbeda dari tas belanjanya, lalu menunjukkannya kepada Riana. "Lo suka yang mana?"
Riana menatap horor kedua baju itu. "Itu buat siapa?! gue?!"
Veli mengangguk antusias.
"Lo gila?!" sarkas Riana. Membayangkannya saja ia tidak mau, apalagi memakainya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.