[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Buku-buku berjejer rapi sesuai genre yang sudah disesuaikan dan dibatasi per rak. Buku yang paling diminati ditaruh paling menonjol agar pengunjung yang datang untuk mencari buku tersebut tidak perlu repot-repot mencari hingga ujung atau menanyakan kepada pekerja di sana.
Binar di mata Riana tidak hilang sepanjang kakinya melangkah menyusuri buku-buku romansa dengan sampul yang memanjakan mata. Tangannya sedari tadi tidak henti-hentinya mengambil buku novel yang menarik perhatiannya, lalu menaruhnya kembali, dan terus-menerus seperti itu hingga menemukan satu buku yang paling menarik baginya. Ia menoleh kepada lelaki yang senantiasa mengikutinya sedari tadi. "Gus, mau yang ini, ya?"
Faiz mengambil novel yang disodorkan perempuan itu, membaca bagian belakang sampul—takutnya Riana memilih novel yang tidak benar. Setelah memastikan jika novel yang dipilih perempuan itu tidak membahas hal yang salah, ia mengiakan.
Riana kembali memilih novel yang menarik baginya. Tidak jarang ia kebingungan antara memilih novel yang ramai dibahas di sosial media atau novel yang jarang dibahas, tetapi menarik dari segi blurb di belakang sampulnya. "Gus, boleh beli berapa?"
"Lima," balas Faiz, "Saya mau liat-liat buku lain dulu, kamu juga pilih-pilih aja dulu mau yang mana."
Riana mengangguk. Ia kembali menimang-nimang, sedangkan lelaki itu sudah melangkah menuju rak buku Bisnis & Ekonomi.
Kaki Riana melangkah ke sana-kemari, mencari dan memilih novel yang ia putuskan untuk ia beli. Sudah ada tiga novel romansa dan satu novel politik di tangannya, kini ia dibingungkan kembali antara dua novel yang sama-sama menarik perhatiannya saat ini. "Kayaknya seru semua, deh. Tapi, kan, bolehnya cuman lima," monolognya. "Apa beli semua aja, ya? Gak apa-apa kali kalau lebih satu." Riana mengangguk yakin untuk keputusannya.
Setelah enam novel yang kini berada di dalam pelukannya, Riana melangkah riang mencari lelaki yang sudah hilang dua puluh menit lalu dari pandangannya. Matanya memicing tatkala menemukan punggung lelaki itu. Langkahnya segera mendekati Faiz, tetapi diperlambat sekali setelah dekat dengan lelaki itu agar tidak menimbulkan suara, lalu menepuk bahunya cukup kuat sembari berseru, "Hai!"
Faiz tersentak kaget oleh kelakuan perempuan yang kini terkekeh menyebalkan. Ia berdecak kesal dibuatnya. "Udah pilih novelnya?"
Riana mengangguk dan melirik tumpukan novel yang ada di tangannya.
"Kok, enam? Bukannya tadi saya bolehinnya lima?"
Riana berdecak. "Tadi itu ada dua yang keliatannya seru banget, jadi mutusin beli dua-duanya, deh," sahutnya. "Lagian cuman lebih satu doang, nggak akan buat lo bangkrut."
"Tapi yakin kamu bakal baca semuanya? Awas aja kalau cuman dijadiin pajangan."
Riana mendengus. "Tenang aja, nanti gue baca semuanya, kok," sahutnya mantap. "Lo mau beli buku itu?" Riana menunjuk tiga buku yang berada di tangan Faiz dengan dagunya.
Faiz mengangguk. "Iya. Ayo bayar dulu."
Faiz mengambil buku-buku yang berada di tangan Riana—membantu membawakannya—kemudian menaruhnya di atas meja kasir setelah mendapatkan giliran membayar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
