[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Rumah sakit tidak pernah berhenti beroperasi selama dua puluh empat jam, menangani pasien dengan bermacam-macam kondisi. Para keluarga menunggu sembari melangitkan doa-doa, sedangkan para tim medis mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelamatkan nyawa pasien yang kapan pun bisa direnggut oleh malaikat pencabut nyawa atas izin Allah.
Setelah mendapatkan kabar buruk melalui sambungan telepon, Riana yang tiba-tiba lemas itu langsung memberitahu keluarganya, lalu pergi dengan tergesa-gesa menuju Rumah Sakit Milina.
Dan saat inilah mereka berada di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), menunggu dengan gelisah selagi para tim medis memeriksa kondisi Faiz dari beberapa jam lalu.
Riana meremas roknya sedari tadi, menunggu dengan takut sembari duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan di sana, sedangkan Annisa sudah menangis sedari tadi, beberapa kali ditenangkan oleh Kiai Furqan.
Elis yang duduk di samping putrinya itu beberapa kali mengatakan Faiz tidak akan kenapa-kenapa, tetapi perkataannya sama sekali tidak membuat rasa khawatir dan takut dalam diri Riana hilang. Tangannya mengelus tangan Riana. "Jangan takut, Faiz pasti baik-baik aja," katanya untuk kesekian kalinya, berusaha membuat putrinya tenang.
Riana menatap Elis dengan mata memanas. "Kalau baik-baik aja, kenapa sampe sekarang dokter belum keluar dari ruangan, Ma?"
Elis baru saja akan membalas, tetapi pintu IGD dibuka oleh dokter yang menangani Faiz. Mereka langsung berdiri, menghampiri dokter tersebut.
"Maaf, benar ini dengan keluarga pasien atas nama Muhammad Faiz?"
"Benar, Dok. Bagaimana kondisi anak saya sekarang?" tanya Annisa cepat.
"Saya jelaskan di ruangan saya saja, ya. Silakan ikuti saya, cukup satu sampai dua orang saja."
Annisa dan Riana mengikuti dokter tersebut ke dalam ruangan yang berdominan putih bersih, mendudukkan diri di seberang meja dokter tersebut.
Dokter itu mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman. Menghela napas panjang, sebelum menatap Riana dan Annisa yang sudah menunggunya dengan takut-takut.
"Mohon maaf saya harus menyampaikan kabar kurang baik. Berdasarkan pemeriksaan, Faiz saat ini mengalami penurunan kesadaran dalam atau koma."
Riana semakin meremat roknya, dadanya terasa sakit mendengar pernyataan pahit itu.
"Kondisi ini terjadi karena cedera kepala yang mengakibatkan otaknya tidak bisa merespons rangsangan dari luar." Dokter memberi jeda sesaat, sebelum melanjutkan, "Karena kondisinya membutuhkan pemantauan ketat, kami perlu memindahkan pasien ke ICU. Sebelum dipindahkan, kami perlu persetujuan dari pihak keluarga pasien."
Dokter itu menyodorkan selembar formulir persetujuan perawatan intensif yang sudah dibawakan oleh seorang perawat. Ia menjelaskan kondisi Faiz lebih detail, risiko jika tidak dipindahkan ke ICU, dan aturan dalam ruangan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
