[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Hari Senin adalah hari yang paling menyebalkan dari hari lainnya, terutama bagi anak sekolah dan para pekerja yang harus bangun pagi melebihi jam terbit matahari. Hari pekan terasa berjalan begitu lambat, sedangkan akhir pekan berjalan begitu cepat.
Wajah Riana tampak kusut menyambut hari keramat di minggu pertama. Dua hari di Jakarta tak terasa apa-apa baginya, ingin menambah hari pun pasti tidak akan dibolehkan oleh Faiz. Ia dan lelaki itu baru sampai di Bandung pada pukul sembilan malam, berharap esoknya dibolehkan izin sebab lelah, tetapi ternyata lebih baik jangan berharap jika orangnya adalah Faiz.
Tangan kiri Riana terangkat membenarkan tali ransel yang terasa tidak pas di pundaknya, sedangkan tangan kanannya menjinjing plastik berisi camilan kering yang dibungkuskan oleh Elis khusus untuk teman-temannya.
"RIANAAAA!!"
Suara cempreng Via menyambut kedatangan Riana di Kamar Az-Zahra. Perempuan yang tingginya hanya seratus lima puluh lima sentimeter itu berlari ke arah Riana, kemudian memeluknya erat.
Riana sedikit terhuyung ke belakang, beruntungnya kakinya dengan sigap menahan tubuh. Tubuh Via memang kecil, tetapi tenaganya tidak sepadan dengan tubuhnya.
Riana melepaskan pelukan Via seraya bergidik ngeri, menjauhkannya sedikit. Horor baginya ketika teman lemotnya memeluknya dengan senyuman yang mengembang.
Via cemberut. "Aku kangen tauu sama kamuuu!" Ia kembali mempersempit jarak di antara dirinya dan Riana, ingin memeluk perempuan itu kembali.
Riana mundur tiga langkah dari Via. "Jangan deket-deket, najis mugholadoh."
Via tambah cemberut dibuatnya. "Aku bukan babi atau anjing sampai disebut najis mugholadoh!" hardiknya, sebelum memalingkan wajah bermaksud mengambek.
Siska memakai tas ranselnya. "Sampe ke sini kapan, Na?" tanyanya mewakili semua orang.
"Semalem." Riana menaruh camilan di tangannya ke atas meja belajar. "Dibungkusin kue kering sama snack sama mama gue buat kalian."
"Asiik!" Si pecinta kue itu segera mengintip isi dari plastik. "Makasih ya, Na!" ujar Dewi sumringah.
"Makasih, Na," timpal yang lain.
Riana hanya mengangguk.
"Aku pikir kamu bakal lebih lama di Jakarta," ujar Nadia. Ia sibuk membentuk jilbabnya agar rapi ketika dipakai.
Riana mendengus. "Maunya gitu, tapi gak dibolehin sama si Gus."
"Bujuk dengan manja, dong." Tika menyahut cepat.
"Kalau dibujuk pasti dibolehin tuh. Kan, kamu istri tercintanya Gus Faiz," timpal Dewi sembari membuka kemasan camilan kecil yang dibawakan oleh Riana.
"Mata lo istri tercinta!" ketus Riana. Dibandingkan disebut sebagai istri tercinta, ia seperti anak nakal yang sedang diasuh dengan didikan VOC oleh lelaki itu. Semua protesan dan bantahan yang pernah dilontarkan kepada guru lain tidak berlaku bagi Faiz. Lelaki itu punya cara tersendiri untuk membuatnya patuh.
Namun, yang membuatnya senang adalah ia bisa meminta apa pun kepada Faiz, dan lelaki itu pasti akan menuruti jika yang dipinta tidak salah dan ia tidak banyak bertingkah sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Teen FictionSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
