[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Acara Kelulusan SMA Al-Karim.
Senyuman indah merekah, menyambut acara pelepasan kelas dua belas yang paling ditunggu-tunggu. Semua murid bebas berpakaian dan berias dengan cantik asal masih sesuai syariat Islam. Pesantren tidak membatasi santrinya untuk merayakan kelulusan sesuai keinginan mereka, membiarkan mereka merasa senang di hari terakhir mereka berada di pesantren, membiarkan semuanya mencetak kenangan yang indah.
Para wali santri datang dengan setelan tidak kalah rapi, membawakan buket untuk putra-putrinya yang dibiarkan mandiri selama bertahun-tahun di sini. Mereka saling meminta tolong kepada orang lain untuk memfoto diri sebagai kenang-kenangan.
Riana berlari kecil setelah melihat orang tuanya dari kejauhan. "MAMAA, PAPAA!"
Riana memeluk Elis setelah sampai di dekatnya. "Mama, Riana kangen."
Elis membalas pelukan putrinya. Ia tersenyum. "Mama juga kangen sama Riana."
"Sama papa nggak kangen, nih?" Arka menyeletuk. Wajahnya sengaja diarahkan ke arah lain sebagai tanda merajuk.
Riana tertawa kecil, melepaskan pelukannya dari Elis, kemudian beralih memeluk Arka. "Riana juga kangen Papa."
Arka langsung membalas pelukan Riana dengan wajahnya yang masih ditekuk kesal. "Kirain kangennya cuman sama Mama," ketusnya sengaja.
Riana menatap Arka, kepalanya menggeleng. "Nggak, dong. Riana juga kangen Papa, tapi lebih kangen ke Mama, sih, soalnya Papa galak."
Elis tertawa mendengarnya. "Papa galak juga karena putrinya nakal kali."
Riana cemberut, melepaskan pelukannya dari Arka. "Kok, Mama malah bela Papa, sih?"
Arka mendekatkan dirinya kepada Elis, tangannya ia taruh di pinggang istrinya. "Iya, dong. Kan, papa ini suami yang paling dicintai sama Mama kamu. Lagian yang diomongin sama Mama kamu emang bener, papa galak juga karena kamunya nakal. Jadi papa harus tegas biar kamu nurut." Ia menatap Elis. "Iya, kan, Sayang?"
Elis mengangguk. Setelah itu ia langsung mendapatkan kecupan di keningnya dari Arka, membuatnya tersenyum lebar.
Riana yang menyaksikan hal tersebut merotasikan bola matanya. Tidak di tempat ramai, tidak di tempat sepi, sama-sama suka melakukan hal romantis tanpa mengenal tempat dan waktu. Membuat orang lain—terutama dirinya—risi saja. Ia menatap orang tuanya malas. "Nggak usah pamer kemesraan di depan Riana, deh. Riana udah bosen," ungkapnya tidak tahan.
Elis dan Arka tertawa melihat wajah Riana yang masam. "Bukan bermaksud pamer, tapi kami kalau soal mesra emang enggak bisa ditahan. Udah bawaan dari sononya," seloroh Arka.
"Yaudah kalian lanjutin aja mesra-mesraannya, Riana mau ke Faiz dulu. Riana males nontonin keromantisan kalian," ucapnya, kemudian melenggang pergi dengan raut yang masih masam.
Elis dan Arka terkekeh. "Ngomong aja kali kalau kamu mau mesra-mesraan juga sama Faiz," tukas Arka.
Riana berdecak. "Malas menanggapi," ketusnya sembari terus berjalan menjauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Ficção AdolescenteSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
