01

25.3K 534 3
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

"Riana!"

Seorang perempuan berusia delapan belas tahun tiba-tiba menghentikan langkahnya di anak tangga urutan ketiga. Tubuhnya diputar dengan malas hingga berhadapan dengan lelaki yang sering ia panggil Papa.

"Kenapa?" Pertanyaan penuh rasa muak dilontarkan oleh Riana. Riana Ayunindya Maheswara.

"Kamu habis dari mana? Sekarang jam berapa, hah?!" tanya Arka—papanya Riana—dengan intonasi tinggi sembari menunjuk jam yang berada di dinding rumah bercat putih.

Riana mendongak menatap jam tersebut, lalu menatap Arka kembali. "Jam satu," jawabnya santai seraya menyenderkan tubuhnya ke pagar tangga yang berada di sampingnya.

"Kamu habis dari mana!?" Arka kembali bertanya dengan intonasi lebih tinggi.

"Main." Riana tetap membalas dengan nada malas.

"Sama siapa!?"

"Temen, pacar."

"Sudah berapa kali papa bilang, JANGAN PACARAN!" sentak Arka.

Riana merotasikan bola matanya, larangan itu semakin membuatnya muak sebab telinganya setiap hari disumpal dengan larangan yang tidak masuk akal menurut Riana. Usianya sudah delapan belas tahun—lebih tua satu tahun dari teman-teman sekelasnya—tetapi mengapa masih dilarang berpacaran seperti bocah sekolah dasar?

Punggung Riana ditegakkan kembali, raut wajahnya masih menayangkan perasaan malas dan tidak peduli. "Gak peduli," balasnya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

"Riana!"

Kaki Riana masih melangkah tanpa memedulikan panggilan dari Arka.

Melihat respons putri satu-satunya yang tidak ada sopan santunnya membuat Arka menahan emosinya. Tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras. Riana sulit sekali diajari walaupun dengan cara baik-baik.

Arka tahu jika Riana diajari dengan cara kasar, perempuan itu akan semakin memberontak—mengikuti sifatnya sewaktu muda yang menurun kepada putrinya. Namun, sudah banyak tenaga yang ia keluarkan untuk menasihati dan membimbing dengan cara baik-baik kepada putrinya itu, tetapi hasilnya tetap nihil.

Kalau kamu kayak gini terus, papa jadi sangat yakin untuk keputusan papa nanti.

***

"Sayang, nanti malem aku mau ke club sama temen-temen. Kamu mau ikut?" tanya Andre, kekasih Riana selama dua tahun belakangan.

Riana mendongak. "Ke mana? Club?"

Kantin sekolah terlalu ramai di jam istirahat pertama, membuat suara Andre hanya terdengar setengahnya saja di telinga Riana.

Andre mengangguk. "Iya, ke club. Kamu mau ikut, kan?"

Riana mengaduk-aduk kuah bakso dengan ragu. "Emangnya mau jam berapa?"

"Sekitaran jam sepuluh."

Riana mengulum bibirnya, nampak menimang-nimang. Orang tuanya di jam sepuluh pasti masih menonton televisi di ruang tamu, dan bisa dipastikan jika ia melewati orang tuanya di ruang tamu dengan tujuan pergi bersama pacar akan dilarang keras oleh mereka, terutama Arka. Namun, bukankah selama ini ia selalu menentang mereka? Mungkin untuk nanti malam pun Riana akan melakukan hal yang sama, yaitu tetap pergi bersama Andre hingga larut malam atau bahkan keesokan paginya.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang